PULAS: Tidur di bengkel bus Kota Monywa menunggu keberangkatan ke kota Kalay,Myanmar yang ditempuh 21 jam nonstop. (Foto Dok Bahari)
SAAT penulis melakukan haji darat 2011, Dahlan Iskan yang saat itu baru menjabat menteri BUMN menelepon. Ketika itu penulis mentok di Pakistan. Penyebabnya, visa Iran sulit didapat karena harus aplikasi dulu. Penulis sambil jalan sebenarnya sudah mengurus visa Iran sejak di Bangkok, Thailand, tapi gagal.

Ketika mengurus visa di Kedubes Iran di New Delhi, India juga ditolak. ”Mengapa tak diurus di Jakarta?’’ tanya petugas Kedubes Iran penuh selidik. Melintas antarnegara lewat darat dianggap tidak normal. Karena itu penulis selalu dicurigai sebagai mata-mata dan kurir narkoba. Setiap melintasi perbatasan bukan main ketatnya pemeriksaan. Semua barang digeledah, tak terkecuali celana dalam sekalipun. Semua barang bawaan diobrak-abrik. Sebab, orang yang biasanya melintas antarnegara lewat border darat umumnya kurir narkoba atau mata mata. Apalagi, penulis tidak pernah mengaku wartawan selama melakukan perjalanan haji darat. Bahkan, penulis harus mengganti status jurnalis di paspor dengan mengurus paspor baru. Sebab, status wartawan bakal kian menyulitkan perjalanan. Sebab, banyak negara mencurigai wartawan sebagai mata-mata, terutama di wilayah konflik atau bergolak. Penulis mengaku apa saja, baik turis, pengusaha, penata taman, hingga pekerja konstruksi. Menyesuaikan negara yang dilintasi. Kalau di negara muslim penulis katakan sedang melakukan nazar haji darat.

Begitu juga saat penulis mengurus visa di Kedubes Iran di Islamabad, Pakistan. Penulis harus mengajukan aplikasi dulu ke Teheran, Iran. Selain tidak ada kepastian bakal dikabulkan, jawabannya bisa seminggu lebih. Entah dapat laporan apa soal penulis, atau mungkin geregetan penulis yang tak segera masuk Iran, mendadak Bos Dis (sapaan Dahlan Iskan) telepon. ”Kamu takut mati ya?’’ semprot Dis sengak (pedas, tidak enak) tanpa basa-basi. Itu memang gaya Dis. Tembak langsung. Sebenarnya maksudnya baik. Untuk membangkitkan semangat, tapi caranya tak biasa. Penulis sudah paham gaya Dis. ”Tidak Bos. Kalau takut mati, saya tidak akan berada di Pakistan,’’ jawab penulis. ”Lalu apa masalahnya?’’ cercanya. ”Kesulitan mengurus visa Iran. Harus mengajukan aplikasi ke Teheran dulu lewat Kedubes Iran. Itu belum jaminan dikabulkan, jawabannya juga lama,’’ kata penulis. Padahal, waktu masuk ke Makkah makin mepet, tinggal belasan hari.

”Oh, gitu ya… nanti biar dibantu Agus (orang PLN) kita ada kerjasama dengan Iran,’’ kata Dis.

Tak lama Agus pun menelepon penulis. ”Sampeyan naik pesawat saja ke Teheran. Kan visa Iran bisa on arrival,’’ ujar Agus enteng. ”Lho, saya ini haji darat tidak boleh naik pesawat,’’ jelas penulis. Ganti Agus kebingungan. Setelah itu tak pernah kontak lagi. Mungkin Agus kurang paham haji darat.

Dis sebelumnya juga sempat ”protes’’ mengapa penulis hanya sehari di Tibet. Sebab, banyak hal bisa ditulis di Negeri Atap Dunia yang begitu eksotis itu. Penulis katakan visa masuk Pakistan tinggal beberapa hari. Kalau telat masuk, bisa hangus. Mengurus ulang belum tentu bisa. Itu akan membuyarkan rencana perjalanan haji darat. Apalagi jarak Tibet dengan Pakistan masih jauh.

Menyeberang ke Nepal butuh dua hari. Lalu melintasi India yang luas hingga ke Amritsar, Punjab, kota perbatasan India – Pakistan. Meski sedikit dongkol Bos Dis bisa memahami karena alasan penulis cukup logis. ”Sayang ya…,’’ gerutunya. Bos Dis memang berulang kali ke Tiongkok, tapi belum pernah menginjakkan kaki di Tibet. Makanya, itu yang membuat Bos Dis penasaran.
Dis, bagi sebagaian wartawan, kadang menjengkelkan. Karena kemauannya sulit ditebak. Ditambah perintah liputannya sulit-sulit. Tapi, terkadang jenius. Super jenius.

SARAPAN DI WARUNG MONYWA:Ang Soe Moe (kanan) staf lokal KBRI Yangon menemani penulis selama di Myanmar. Selain cekatan orangnya fasih bahasa Indonesia. (Foto Dok Bahari)
GANTI BAN. Bus mirip Kopaja tidak ber AC dan sempit bocor dalam perjalanan Monywa—Kalay akibat jalannya rusak parah. (Foto Bahari)

Itu terjadi saat perjalanan haji darat terhenti di Myanmar. Setelah dua hari dua malam naik bus sejenis Kopaja campur barang kelontong dan sayuran dengan medan jalanan rusak parah, penulis sampai di Kota Tamu, wilayah di timur Myanmar yang berbatasan dengan Provinsi Manipur, India. Hari mulai gelap.
Ternyata Tamu menjadi kota terlarang bagi warga asing. Penulis berniat menginap di empat hotel. Empat-empatnya menolak karena penulis tak dibekali surat izin dari Mendagri Myanmar. Sebab, di perbatasan Myanmar-India ada pemberontakan suku lokal India di Manipur. Penulis yang ditemani staf lokal KBRI Myanmar akhirnya mendatangi kantor imigrasi setempat. Bukanya dibantu, kami malah diusir. Jam itu juga, malam itu penulis dikawal petugas imigrasi, dipaksa meninggalkan Kota Tamu menuju Kota Kalay, berjarak 120 kilometer naik ojek. Waduh… capeknya. Bokong sampai panas.

BERJEJALAN: Naik angkot terbuka dari Kalay ke Tamu, Myanmar berjarak 81 mile atau 100 kilometer lebih. (Foto Dok Bahari)

Selama tiga hari menunggu di Kalay, penulis wajib lapor imigrasi setempat. Dan tidak boleh bepergian lebih 4 miles dari hotel. Penulis juga kontak Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya melalui telepon umum di pinggir jalan. Sebab, handphone penulis tak bisa nyambung karena tidak ada sinyal. Penulis bilang andai tidak bisa masuk India lewat Kota Tamu, apa solusi redaksi Surabaya. Leak hari itu belum bisa memutuskan.

WAJIB LAPOR: Di hotel kota Kalay, Myanmar inilah penulis tersandera. Tidak boleh pergi dari hotel lebih dari 4 mile. (Foto Dok Bahari)

Sementara staf Kedubes RI di Yangon yang membantu penulis memintakan izin Mendagri Myanmar melintas perbatasan menuju India angkat tangan. Akhirnya, Dubes Sumarsono menyarankan penulis balik ke Yangon.
Karena waktunya kian mepet, dan redaksi Surabaya belum juga memberikan solusi. Ditambah tidak ada kontak karena HP penulis meski pakai jaringan internasional tak bisa nyambung di Yangon. Akhirnya penulis memutuskan terbang ke New Delhi, India. Sampai di India penulis berencana ke Provinsi Manipur di perbatasan India-Myanmar untuk ”menyambungkan’’ Kota Tamu (Myanmar) dan Manipur (India).

Saat transit di Thailand, mendadak Baihaqi menelepon penulis. ”Posisi di mana Bahari?’’ tanya Baihaqi yang saat itu menjabat Korlip Jawa Pos. Penulis pun menjawab terus terang sedang transit di Thailand menuju India. Tak lama Leak Kustiya, pemimpin redaksi Jawa Pos juga menelepon penulis. Dia panik. ”Kok terbang, Mas?’’ tanya Leak gusar. Penulis jelaskan panjang lebar. Bahkan, Leak saat itu minta penulis stay dulu di Bangkok. Terjadi debat. Tapi, karena harus masuk pesawat, akhirnya Leak mengalah. ”Ya.. wis, Mas ke India dulu. Kita atur lagi kalau sampeyan sampai sana,’’ tuturnya. (yog/bersambung)

KOTA TERLARANG: Begitu datang ke Tamu, kota perbatasan Myanmar–India, penulis langsung diusir imigrasi ke kota Kalay berjarak 81 mile naik ojek. (Foto Dok Bahari)