Tantangan yang hingga saat ini dihadapi oleh lulusan Akademi Teknik Arsitektur (ATA) YKPN adalah makin terbatasnya lahan untuk bangunan. Beberapa daerah di Indonesia juga rawan bencana, sehingga pada prinsipnya masyarakat kini butuh orang yang bisa membantu memberikan arahan dan pengawasan saat pembangunan.

“Di sinilah peluang lulusan D3 Arsitektur ATA YKPN untuk mengembangkan kiprahnya,” ungkap Direktur ATA YKPN Dwi Wahjoeni ketika ditemui Radar Kampus di kantornya, Rabu (8/8).
Berbeda dari perguruan tinggi lain, mahasiswa ATA YKPN lebih banyak mengenyam praktik dengan persentase 70 persen. Sisanya diberikan teori. Tidak heran jika lulusan ATA YKPN lebih spesifik. Jadi ketika turun ke dunia kerja langsung bisa menggambar.

“Dari segi rancang mungkin berbeda. Lulusan juga sudah bisa membuat desain rumah tinggal dari awal hingga detailingnya. Jadi lulusan lebih siap di dunia kerja,” jelas Joeni, sapaannya.

Ada beberapa hal yang dipelajari yaitu desain arsitertur, desain struktur bangunan. Juga interior, tata ruang, landscape taman. Mahasiswa juga dibekali teori estetika. Bagaimana kemudian membuat produk aksesoris rumah dan fashion. Lulusannya kini banyak yang menjadi perancang bangunan, rancang interior dan pernik-perniknya, serta usaha furniture.

ATA YKPN juga mengajarkan membuat maket. Lulusan juga ada yang bidang kerjanya membuat maket. Walaupun kini dengan kemajuan teknologi, gambar tiga dimensi sudah bisa dirancang dengan komputer, tapi beberapa perusahaan juga masih banyak yang menggunakan maket. “Lulusan juga ada yang menjadi perajin maket untuk kebutuhan developer,” ungkapnya.

Kini ATA YKPN tengah bekerjasama dengan berbagai institusi pemerintah yaitu forum komunikasi kota tanpa kumuh (Forkomkotaku). Program Forkomkotaku merupakan salah satu program Pemkot Jogja untuk menghilangkan kekumuhan. “Mereka melibatkan mahasiswa ATA YKPN untuk membantu membuat gambar pelaksanaan infrastruktur. Seperti talut, dan gorong-gorong,” jelasnya.

Dari tahun ke tahun calon mahasiswa yang minat masuk ATA YKPN relatif stabil. Per tahun bisa menerima 40-50 orang siswa untuk satu kelas. Dalam setiap pembelajaran, mahasiswa dibekali softskill yang berkaitan dengan sikap dan kerja sama. Juga pengetahuan dan praktik yang cukup.
Hanya saja softskill sulit diukur. Harapannya lulusan tetap mempertahankan jati diri sebagai insan yang bertanggungjawab, mampu bekerjasama, sopan, dan mengedepankan toleransi, serta loyalitas di manapun mereka bekerja. (ega/laz/mg1)