BANTUL – Kehidupan warga di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan jauh dari sehat.Warga sekitar tidak hanya dekat dengan bau tak sedap. Lebih dari itu, mereka saban hari juga bersinggungan dengan jutaan bahkan miliaran bakteri. Itu salah satunya akibat meningkatnya populasi lalat.
”Tidak hanya musim penghujan, saat kemarau pun lalat sangat banyak,” keluh Boiran, seorang warga sekitar TPST saat ditemui di rumahnya Rabu (8/8).
Lalat tidak hanya ditemukan di TPST. Kerubungan hewan pembawa bakteri ini juga banyak ditemukan di sekitar TPST. Tak terkecuali di dalam rumah warga. Kendati begitu, pria kelahiran 30 tahun lalu ini jarang mengeluh sakit. Yang paling sering hanya sakit kepala.

”Nyamuk juga banyak,” ucapnya.
Sutamto, seorang warga lainnya mengeluhkan hal serupa. Menurutnya, tidak jarang sampah yang menggunung seperti tebing berjatuhan ke bawah. Mengotori halaman sejumlah rumah warga yang persis berada di bawahnya. Kondisi ini semakin parah ketika memasuki musim penghujan.
”Bahkan (gunungan sampah, Red) bisa longsor karena guyuran air hujan,” ujarnya.

Sutamto menengarai tingginya populasi nyamuk akibat banyaknya genangan air di area TPST. Terutama saat musim penghujan. Mengingat, sebagian barang rongsok pemulung yang notabene berupa barang pecah belah dibiarkan begitu saja. Akibatnya, menjadi genangan air.

”Dan tumpukan sampah ini juga banyak dikerubungi lalat,” kata Sutamto sembari menunjuk tumpukan barang rongsokan di halaman rumahnya.
Kendati hidup di lingkungan tak sehat, Sanitarian Puskesmas Piyungan Puji Arumsari mengungkapkan, hingga sekarang belum ada keluhan penyakit dari masyarakat. Baik diare maupun demam berdarah dengue (DBD). Dua penyakit yang disebabkan lalat dan nyamuk.

”Bagi ibu hamil penyakit diare berbahaya. Bisa mengakibatkan bayi stunting,” ujarnya.
Ketika disinggung mengenai rumah hunian di sekitar TPST, Arum, sapaannya berpendapat jauh dari ideal. Seharusnya jarak antara rumah hunian dan TPST sekitar dua kilometer. Itu untuk menghindari berbagai potensi gangguan kesehatan.

Karena itu, puskesmas gencar menyosialisasikannya kepada masyarakat. Terutama saat pelayanan posyandu. Itu untuk menimalisasi penyakit diare dan DBD.
”Untuk nyamuk disebabkan perilaku tukang rongsok,” tambahnya. (ega/zam/mg1)