Kawasan Malioboro sebagai jantung Kota Jogja semakin nyaman untuk pengunjung. Berbagai fasilitas di kawasan pedestrian kini lengkap dan nyaman. Mulai dari tersedianya tempat duduk di sepanjang Malioboro, instalasi seni yang instagramable maupun tempat sampah di setiap sudutnya, sehingga mendukung kebersihan dan kerapian kawasan itu.

Sejak September 2017 Pemkot Jogja menggalakkan gerakan Selasa Wage, yaitu meliburkan para pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Malioboro setiap 35 hari sekali, tepatnya pada Selasa Wage. JNE turut ambil bagian dalam gerakan itu sebagai salah satu wujud kepedulian JNE Jogjakarta kepada lingkungan sekitar yang berada di wilayah teritorial Kota Jogja.

Selasa (7/8) ksatria JNE Jogjakarta bersama Inem Jogja dan berbagai elemen masyarakat Jogjakarta melakukan Reresik Malioboro. Sebanyak 60 karya­wan JNE berbaur mengikuti kegiatan Reresik Malioboro dengan berbagai komunitas, seperti komunitas pedagang kaki lima dan komunitas kopi. Selasa Wage kali ini bertepatan dengan pelantikan Satuan Tugas (Satgas) Kebersihan Selasa Wage oleh Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti didampingi Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi.

Para peserta Gerakan Selasa Wage telah berada di kawasan Malioboro sejak pukul 05.30 dan langsung berpencar dengan membawa peralatan kebersihan masing-masing, seperti sapu, sikat, dan kantong sampah. Sekitar pukul 08.00 kawasan Malioboro telah bersih dan peserta bersiap-siap mengikuti apel pagi. Apel pagi yang dipimpin langsung wali kota ini diikuti seluruh peserta yang berpusat di halaman Malioboro Mall.

Dalam sambutannya Wali Kota Haryadi Suyuti menyampaikan, apel pagi kali ini berbeda karena bersamaan dengan pelantikan Satgas Kebersihan Selasa Wage dan juga dihadiri berbagai komunitas, termasuk JNE. Perwakilan komunitas juga memberikan rompi Satgas Kebersihan Selasa Wage bagi wali kota dan wakil wali Kota Jogja. Kegiatan diakhiri dengan kembulan jajan pasar yang dibagikan JNE untuk seluruh peserta Reresik Malioboro.

Adi Subagyo, Branch Manager JNE Jogjakarta mengungkapkan, tahun lalu, tepatnya Juli 2017, pihaknya telah melakukan CSR (Corporate Social Responsibility) berupa pemberian bantuan armada angkutan sampah bagi JPSM (Jaringan Pengelola Sampah Mandiri) bekerjasama dengan BLH (Badan Lingkungan Hidup) DIY. Setelah kegiatan itu, Adi ingin terus berkontribusi melalui berbagai cara dengan menunjukkan kepedulian JNE terhadap Jogjakarta.

“Seperti yang pernah saya katakan tahun lalu bahwa kami sangat terbuka untuk bersinergi dengan semua pihak dalam hal positif, jika tahun lalu kami JNE dapat terlibat dalam gerakan Selasa Wage hari ini,” ujar pria yang pernah menjabat Branch Manager Mojokerto.

Adi juga menambahkan, sebagai bentuk kesetiakawanan sosial bagi korban gempa Lombok, JNE Jogjakarta menggratiskan pengiriman bantuan bagi masyarakat atau komunitas yang ingin menyalurkan bantuannya ke posko korban gempa Lombok. Bantuan yang dapat diterima dan dibantu pengirimannya adalah makanan, obat-obatan, dan pakaian.

Terpisah, Head Regional Jateng DIY Marsudi memberikan dukungan penuh bagi JNE Jogjakarta yang aktif bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat. “Tidak hanya karena JNE berada di Jogjakarta lalu meng­ikuti program pemerintah, tapi kegiatan Selasa Wage ini juga menanamkan budaya perusahaan yaitu 5R (Resik, Rapi, Rawat, Rajin, Ringkas) tidak hanya di lingkungan perusahaan, tetapi juga di lingkungan masyarakat,” katanya.
Karena, lanjut Marsudi, kegiatan operasional JNE juga bergantung pada keseimbangan alam. “Dengan ikut merawat dan menjaga kebersihan, maka kelestarian lingkungan akan terjaga dan pekerjaan menjadi lancar,” ujar ayah tiga anak ini. (*)