BANTUL – Pengelolaan limbah hewan kurban selalu meninggalkan “PR” bagi pemerintah daerah maupun masyarakat setiap tahun. Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Dispertautkan) Bantul menilai hal itu sebagai masalah serius tahunan yang harus diantisipasi. Itu lantaran selalu ada masyarakat menyembelih hewan kurban dan membuang limbahnya secara sembarangan. Bahkan, tak sedikit masyarakat mencuci jeroan di selokan atau sungai mengalir.

“Ini kalau tetap dibiarkan tidak akan berdampak baik bagi kesehatan masyarakat,” tegas Kepala Dispertautkan Bantul Pulung Haryadi Selasa (7/8).

Pulung mewanti-wanti masyarakat untuk mengelola limbah hewan kurban secara benar. Dibuang dalam satu galian tanah, lalu dikubur. Agar limbah tersebut tidak mencemari lingkungan.

Jika lingkungan tercemar limbah hewan kurban dikhawatirkan dapat menyebabkan penyakit, terutama diare. “Pekan depan kami akan memanggil 100 takmir untuk menyosialisasikan hal ini,” jelasnya.

Lebih dari itu, para takmir juga akan dibekali tata cara penyembelihan hewan kurban secara syar’i. Disinggung soal pemanfaatan limbah sebagai pupuk kandang, Pulung mengaku belum berfikir sampai di situ. “Bagus itu, tapi kami masih mengupayakan agar limbah kurban tak sampai sampai mengotori sungai dan saluran air,” ujarnya.

Pengawasan proses penyembelihan hewan kurban menjadi agenda pokok Dispertautkan. Guna meminimalisasi tingkat pembuangan limbah di selokan. Kendati demikian, Pulung mengakui jika saat ini tak ada sanksi bagi takmir atau panitia pemotongan hewan kurban yang membuang limbah di selokan. “Kami hanya bisa mengimbau masyarakat agar terus menjaga kebersihan,” tuturnya.

Di bagian lain, Kasi Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Bantul Yanatun Yunadiana menyatakan belum pernah meneliti masalah limbah hewan kurban. Hanya, menurut dia, limbah hewan kurban yang dibuang di selokan atau sungai akan mengurangi kadar oksigen dalam air yang mengalir. Semakin banyak limbah, semakin banyak pula mikroorganisme di air tersebut. “Limbah ini akan diuraikan oleh mikroorganisme,” jelasnya.

Keberadaan mikroorganisme pengurai limbah bisa menyebabkan kematian ikan dan penghuni air lainnya. Sebaliknya, limbah tersebut justru berdampak baik bagi kelangsungan hidup tanaman jika difungsikan sebagai pupuk kandang. Ini lantaran kotoran hewan termasuk limbah organik.(ega/yog/fn)