MAGELANG – Tak terasa Festival Lima Gunung (FLG) sudah memasuki edisi XVII. Kegiatan yang akan digelar 10-12 Agustus mendatang ini akan dilaksanakan di Dusun Wonolelo, Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Semangat para seniman petani di lereng Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh tetap sama, masih seputar goblok.

“Kalau tahun lalu temanya Mari Goblog Bareng, untuk tahun ini juga masih ada kaitannya, yakni Masih Goblog Bareng,” kata Ketua Panitia Festival Lima Gunung XVII Ki Ipang Selasa (7/8).

Dijelaskan, untuk kegiatan ini pihaknya banyak mengeluarkan biaya. Tetapi sesuai komitmen awal, panitia tidak pernah meminta bantuan sponsor baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Bahkan dengan tegas panitia telah menolak mentah-mentah penawaran bantuan keuangan dari Kementerian Pariwisata yang akan membantu pendanaan Rp 1 miliar.

“Kami sejak April lalu pernah diminta untuk membuat proposal pengajuan dana sebesar Rp 1 miliar. Tetapi permintaan itu kami tolak. Karena selama 17 tahun penyelenggaraan Festival Lima Gunung ini tidak pernah meminta bantuan dari manapun. Karena ini kerja dengan hati, maka kami menyiapkan semuanya dengan senang hati,” jelasnya.

Festival ini merupakan ajang silaturahmi para seniman, baik sesama komunitas maupun dengan jejaringnya dari berbagai kota. Sedikitnya 85 kelompok kesenian akan tampil dalam ajang tahunan tersebut. Tidak hanya dari lima gunung, tetapi juga dari Jogja, Solo, Semarang, Sukabumi, Riau, Kalimantan Barat, Banyuwangi, dan lainnya.

“Selain itu sedikitnya 15 seniman dari Melbourne, Australia juga akan memeriahkan acara tersebut bergabung dengan seniman dari Jogja dan Magelang dalam wadah Waton Feysen Show,” ungkap pria yang kesehariannya menjabat kadus Wonolelo ini.

Ditanya kesenian apa saja yang akan ditampilkan, dengan tersenyum Ipang memaparkannya. Antara lain tarian, musik, performa seni, pameran seni, teater, pidato kebudayaan, dan kirab budaya. Juga pameran foto karya para wartawan yang bertugas di Kota Magelang. Kegiatan akan diawali dengan pengajian dengan pembicara Pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH M Yusuf Chudlori.

“Kami ingin dengan festival ini kembali tumbuh suasana kehidupan bersama yang semakin baik, saling menerima perbedaan, rukun, hidup tenteram dan damai, sebagaimana dijalani setiap hari oleh masyarakat desa,” jelasnya.

Tidak hanya itu, panitia juga menyediakan tempat menginap bagi para tamu yang membutuhkan. Disediakan empat rumah yang bisa dijadikan homestay secara gratis, termasuk jamuan makannya.

Untuk persiapan mereka secara gotong royong mempercantik sudut- sudut dusun yang hanya berjarak sekitar enam kilometer dari Kota Magelang ini. Terutama dengan berbagai ornamen instalasi dari jerami padi. (dem/laz/fn)