SLEMAN – Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jogjakarta memusnahkan 25 ikan invasif. Terdiri dari 12 ikan aligator dan 13 ikan sapu-sapu. Pemusnahan sesuai UU 31/2004 tentang Perikanan yang diubah UU 45/2009.

Kepala Seksi Pengawasan Pengendalian dan Data Informasi BKIPM Jogjakarta Haryanto mengatakan ikan tersebut hasil sitaan. Adapula yang diserahkan pemiliknya. Pemusnahan menggunakan rendaman minyak cengkeh dan selanjutnya dikubur.

“Deadline penyerahan 31 Juli 2018. Ikan tersebut memang invasif dan bukan endemik Indonesia. Jika dibiarkan bisa mengganggu habitat ikan asli Indonesia,” kata Haryanto usai pemusnahan di BKIPM Jogjakarta Selasa (7/8).

Keputusan pemusnahan final. Bahkan langkah tersebut merupakan instruksi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dilarang pula kepemilikan dalam kolam maupun akuarium. Diatur dalam Permen Kelautan dan Perikanan 41/2014.

Pemilik yang terjaring razia akan didenda maksimal Rp 1,5 miliar dan kurungan selama 1,5 tahun. “Dalam aturan ada sekitar 152 jenis ikan yang tergolong berbahaya. Yang sering dipelihara arapaima gigas, aligator, red tail, sapu-sapu, catfish, piranha dan ikan jaguar,” kata Haryanto.

Awalnya ikan akan diserahkan ke Kebun Binatang Gembiraloka (GL Zoo). Namun akhirnya tetap diputuskan pemusnahan atas instruksi Kementerian.

“Dipilih minyak cengkeh karena cara ini paling efektif dan efisien. Direndam dan didiamkan selama 15 menit, selanjutnya dikubur,” kata Haryanto.

Salah seorang pemilik ikan aligator Yatimin, 54, hadir dalam pemusnahan ini. Dia memelihara seekor aligator sejak 15 tahun lalu. Dia beli di Pasar Ngasem Jogja, ikan tersebut berukuran 90 centimeter.

“Saya serahkan sekitar bulan puasa kemarin. Selama ini saya beri makan daging sisa dari restoran dan warung makan,” ujar Yatimin. (dwi/iwa/fn)