JOGJA-Menjaga kesehatan gigi belum menjadi prioritas masyarakat. Apalagi bagi para buruh gendong dan pengayuh becak di Pasar Beringharjo. Buktinya dari pemeriksaan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM banyak dari mereka yang diketahui giginya berlubang. “Mayoritas gigi berlubang, sisa akar dan kebutuhan gigi tiruan,” ujar Wakil Dekan Bidang Penelitian Pengabdian Masyarakat, Kerja Sama, dan Penelitian FKG UGM drg Triana Wahyu Utami di Masjid Muttaqien Pasar Beringharjo Selasa (7/8).

Menurut dia masyarakat masih cenderung membiarkan kondisi giginya yang sudah sakit. “Mungkin berfikirnya kalau sakit gigi besoknya tidak langsung meninggal,” sambungnya dalam kegiatan yang digelar bersama BMT Beringharjo ini.

Padahal, lanjut dia, kondisi gigi yang tidak sempurna tersebut bisa mengakibatkan gangguan pada pencernaan. Itu karena gigi yang berlubang mengakibatkan pengunyahan makanan menjadi tidak lembut dan tidak ada enzim dari gigi yang bisa diserap tubuh. “Proses mengunyah jadi terganggu karena tidak ada giginya, secara fisik pipi juga terlihat kempot,” terangnya.

Sakit gigi, juga akan berpengaruh pada pekerjaan sehari-hari. Karena ada gigi yang tidak segera ditambal dan sudah terkena sarafnya akan membuat gigi terasa sakit. Untuk itu dia mengingatkan supaya menjaga kebersihan gigi, terutama dua kali sehari gosok gigi, pagi hari setelah makan dan malam hari.

Pendiri BMT Beringharjo Mursida Rambe mengakui sedang menyusun kerja sama untuk menggelar pemeriksaan secara rutin. Pemeriksaan kesehatan gigi menjadi salah satu program rutin yang dilakukan karena FKG UGM yang paling merespons. Awalnya pemeriksaan kesehatan bagi buruh gendong, pengayuh becak dan pedagang gurem di Pasar Beringharjo hanya dilakukan untuk pengecekan osteoporosis. “Kemudian berkembang ke pemeriksaan gigi, berikutnya harapannya pemeriksaan kesehatan secara umum,” ujarnya. (pra/din/fn)