Barangkali, primitivitas itu terbentuk karena manusianya tak menyadari bahwa apa yang diketahuinya adalah pengetahuan yang primitif. Bilamana sejak anak-anak balita memperoleh sesuatu informasi yang hanyalah mitos atau semacam gugon-tuhon tentu akan terinternalisasi dalam alam bawah sadarnya.

Banyak mitos yang sampai ke anak-anak tanpa disengaja berpotensi meracuni pikiran si anak sehingga mereka percayang bahwa erupsi Gunung Merapi disebabkan karena ”Pemilik Istana” di atas sana sedang marah. Sampai tua pun masih banyak yang percaya bahwa laut di selatan pulau Jawa itu dikuasai Kanjeng Ratu Kidul. Mitos seorang putri yang ”muksa” dan sangat berkuasa itu adalah jenis pengetahuan yang primitif yang sangat mempengaruhi perilaku manusia dan tetap yakin ada dan eksisten. Tentu bukan hanya mitos saja tapi masih banyak pula dogma, paham, dan ajaran yang masuk dalam alam bawah sadar anak-anak dan manusia dewasa yang mempengaruhi perilaku kehidupannya.

Manusia berbuat dan bertindak atas dasar mitos yang menguasai alam pikiran bawah sadarnya, karena mitos dalam ritus sosial adalah sesuatu yang dianggap fixations (pengkeramatan). Dalam sistem sosial yang dikuasai kaum feodal pun, pengkeramatan diperlukan guna menggerakkan orang atau kaumnya untuk tak melawan segala bentuk tindakan dan kepentingannya. Pengkeramatan memang instrumen sosial yang sangat ampuh untuk melanggengkan kekuasaan. Bukan hanya di Jawa, di berbagai kerajaan di benua Eropa pun memanfaatkan konsep pengkeramatan untuk pelanggengan suatu dinasti.

Di perguruan tinggi pun banyak ilmu pengetahuan, baik sosial maupun eksakta, yang dikeramatkan dan dianggap tak akan ada teori lain yang bisa merubuhkan teori yang dianggap sebagai ”kebenaran”. Akuntansi misalnya, punya metode pencatatan transaksi berpasangan sebagai suatu keharusan, yang pada akhirnya runtuh dengan sendirinya ketika teknologi informasi berubah dengan cepat. Teori komunikasi pun tak lagi percaya bahwa kalau ada orang menggigit anjing barulah berita. Dan, saat ini malah dianggap sebagai teori yanv primitif.

Semua itu bisa berubah sejalan dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Artinya, di bangku sekolah pun tak tertutup kemungkinan informasi tentang ilnu yang sudah primitif diajarkan kepada peserta didik.

Tahun 1970-an, begitu repotnya Kota Jogjakarta melayani banyaknya truk besar antarkota melewati tengah kota. Bus antarkota dan antarprovinsi memadatkan keramaian kota. Muncullah konsep ringroad untuk menyelesaikan kepadatan lalu lintas di tengah kota dengan menimbang bahwa jalan lingkar adalah salah satu bentuk teknologi perkotaan yang dianggap paling sahih (fixation).

Pada akhir tahun 1980-an, jalan arteri itu beroperasi maka kemacetan kota mulai berkurang tapi kemacetan pun justru berpindah ke kawasan jalan arteri terutama Ringroad Utara. Yang unik dalam proses designing masalah transportasi kota saat itu jalan lingkar telah menjadi keyakinan merupakan solusi bagi hampir semua perkotaan di negeri ini yang hampir semua kota membangun jalan lingkar.

Beda dengan solusi di Jogjakarta, Kota Solo, Magelang, dan Klaten menggunakan konsep jalan terusan yang sebetulnya sama-sama rekayasateknik perkotaan. Kata desain memberikan penjelasan bahwa pembangunan mempertimbangkan berbagai unsur pengetahuan yang dirangkai dalam suatu rancangan lengkap.

Desain tentu mempertimbangakan conceptual frameworks, yang menegaskan para perancang dan pelaksana mempunyai kapasitas literasi yang memadai untuk menghasilkan suatu konsep tata kelola trafik pada sebuah kota.

Banyak faktor yang mempengaruhi jalan pikiran suatu keputusan. Tapi, fixations sering kali menjadi argumen pembenar suatu keputusan seseorang, bahkan keputusan pada birokrasi pemerintahan. Contohnya, suatu jalan yang sudah terkonsep bagus harus dipindah jalurnya karena penolakan masyarakat dengan adanya makam yang mereka keramatkan. Jalan Ringroad Utara pun berubah banyak dari desain awalnya karena persoalan pengkeramatan pada suatu lokasi. Padahal, dalam kenyataannya, setelah puluhan tahun jalan tersebut dioperasikan tidak ada akibat negatif atau kecelakaan di lokasi yang telah dikeramatkan.

Ketika pengkeramatan mempunyai makna dan bermanfaat untuk suatu tujuan, justru dimanfaatkan untuk menciptakan kepatuhan masyarakat. Itulah sebabnya kaum feodal (di negara mana pun) dengan jitu menggunakan argumen fixations guna mempertahankan dan menjaga eksisitensi suatu dinasti.

Hal itu pula yang melahirkan teori hukum bahwa kekuasaan diberikan Tuhan kepada penguasa dan keturunannya. Tidak ada manusia lain yang berhak untuk disembah dan dipertuankan. Tentu, teori kekuasaan mutlak sang raja itu ada yang melawan dan terjadilah pertempuran dahsyat untuk menegaskan siapakah yang menjadi pemegang wahyu kekuasaan Tuhan di dunia. Trunojoyo adalah pemimpin Jawa yang berani dan menolak kekuasaan Mataram. Dirinya pun meyakini dapat mandat sebagai penguasa Jawa karena merasa keturnan Brawijaya.

Fixations adalah ciri dari feodalisme dalam mengelola suatu negara yang telah dianggap sebagai rekayasa kekuasaan primitif. Feodalisme dari kata feudum yang berarti beteng, dan kaumnya disebut feodal. Maknanya adalah kaum yang berada di benteng kekuasaan dan menjaganya agar tidak ada kaum (orang) lain yang bisa menggusurnya. Oleh karena itu, dibangun dan dibentuk ajaran (isme) guna menegaskan adanya kaum pemilik kekuasan dan kaum yang menjadi hamba kekuasaan. Dalam pemerintahan republik pun feodalisme tetap saja bisa beroperasi, meskipun dengan format yang berbeda baik di pemerintahan level pusat sampai tingkatan terendah.

Persaingan antarbangsa dan antarnegara itulah yang mengakhiri dominasi para kaum feodal dan mau berbagi peran dengan para hamba dengan munculnya isme baru yang menegaskan kekuatan kolektif Rakyat pemegang kekuasaan Tuhan. Suara Tuham adalah suara rakyat.

Penguasa feodal di Eropa ternyata menyadari, tanpa para hamba mereka tidak akan mampu melawan tentara negara lain yang ingin menjarah kekayaan dan kekuasaannya. Semuanya itu adalah pelajaran berharga bagi sistem bernegara di mana pun, dengan menghilangkan primitivitas pengeloaan negara dengan melepas atribut ataupun paham yang diyakini kaum feodalnya. Negara-negara di daratan Eropa menjadi kuat dan maju,karena mereka tidak mau menjadi bangsa yang primitif. (*/amd/fn)