BANTUL – Sebagian petani di Desa Tirtohargo dipastikan merugi. Itu akibat tanaman bawang merah dan cabai mereka mati setelah terendam luapan Sungai Opak dan Winongo. Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Tirtohargo Yunardiyono memperkirakan kerugian para petani mencapai Rp 3 miliar.

”Total lahan yang gagal panen sekitar 35 hektare,” jelas Yunardi saat dihubungi Selasa (7/8).

Ada dua jenis tanaman yang paling terdampak. Yakni, bawang merah dan cabai. Yunardi menyebut total luas lahan bawang merah dan cabai yang dipastikan gagal panen sekitar 25 hektare. Sedangkan tanaman lain seperti palawija mencapai sepuluh hektare.

”Sedangkan yang sempat terendam sekitar 50 hektare,” sebutnya.

Surati, seorang petani menyebutkan, tanaman cabainya seluas 25 ru. Semuanya terendam air. Perempuan berusia 48 tahun ini sempat melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan tanamannya. Seperti menyedot luapan sungai dengan mesin pompa.

”Tinggal menunggu matinya saja. Padahal baru delapan kali panen. Seharusnya 15 kali,” keluhnya.

Agar kerugiannya tak terlalu banyak, Surati kemarin (Selasa 7/8) menyelamatkan sebagian cabainya. Cabai yang sudah berwarna merah tersebut rencananya bakal dijual di pasar.

”Harganya pasti turun. Karena kondisinya sudah layu,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi mengungkapkan, terendamnya lahan pertanian akibat suangan buntu merupakan bencana alam. Seringnya terjadi di musim kemarau. Berbagai upaya telah dilakukan. “Memompa sudah. Bedah suangan hingga membuat suangan baru juga sudah dilakukan. Kalau cuacanya ekstrem seperti ini memang sulit. Mau tidak mau masyarakat harus siap,” katanya.

Agar tak terulang, kata Pulung, dinasnya bakal menyosialisasikan kepada para petani di pesisir pantai selatan mengubah pola tanam. Dari palawija saat musim kemarau diganti dengan padi.

”Karena padi dapat bertahan di air tawar dan air payau,” tambahnya. (cr6/zam/fn)