AG Irawan (Jauh Hari WS/Radar Jogja)

Kebersihan dan kesehatan lingkung merupakan elemen penting dalam sebuah hunian. Sayang, tak semua pemilih hunian menyadari pentingnya kebersihan lingkungan.
———

Terkadang, pemilik hunian kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. Hal ini berpengaruh terhadap kebersihan dan kenyamanan hunian.

Bahkan, sangat myngkin sanitasi yang tidak baik akan menimbulkan keresahan publik. Bau menyengat yang ditimbulkan dari lingkungan yang tidak bersih akan mengganggu penghuni di sekitar. Akibatnya, timbul pencemaran udara dan penurunan kualitas udara.

Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) AG Irawan menuturkan, sejumlah sanitasi di permukiman masih buruk. Dia mencontohkan, belum tersedianya tong sampah pada setiap hunian atau rumah.

“Menurut kami, perlu ada terus edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat,” kata Irawan.

Menurutnya, menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat memerlukan kerja kolektif dari semua pihak. Kerja sama itu meminimalisasi adanya lempar tanggung jawab dalam hal sanitasi permukiman.

“Harusnya warga, pemerintah, dan pelaku usaha saling bekerja sama untuk mewujudkan sanitasi permukiman yang lebih baik,” tuturnya.

Hal yang sering menjadi kendala, kata Irawan, adalah perilaku masyarakat. Menurutnya, masih ada warga yang tidak peduli terhadap pola hidup sehat.

“Masih banyak dijumpai orang masih membuang sampah ke sungai,” terangnya.

Pendirian instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) juga belum merata. “Pada permukiman padat penduduk sebaiknya ada IPAL komunal, sehingga mampu dipantau secara berkala,” bebernya.

Berkaca dari kondisi Sleman yang berpenduduk padat, menurutnya, jumlah IPAL masih belum tercukupi. Bahkan, ada sejumlah IPAL komunal di Sleman yang tidak terawat dengan baik.

“Contohnya pengelolaan IPAL di Dusun Sambiroto, Kalasan, yang letaknya di pinggir Kali Kuning. (Pengelolaannya) masih harus ditingkatkan,” katanya.

Dia menyarankan agar dilakukan pemetaan potensi limbah di tiap wilayah. Ini mulai dari limbah domestik, limbah industri kecil, dan limbah pabrik untuk kemudian dibuat pengelolaan IPAL.

“Limbah rumah sakit penangannya berbeda sehingga ketika masuk ke sungai tidak mencemari aliran sungai,” tandasnya. (har/amd/fn)