Kecacingan merupakan penyakit karena cacing yang ditularkan oleh hewan maupun berasal dari tanah. Seseorang dikatakan menderita kecacingan jika ditemukan telur cacing atau cacing dalam tinjanya atau ditemukan cacing yang hidup dan berkembang biak di usus halus.

Kecacingan biasanya disebabkan oleh cacing gelang (Ascarislumbricoides), cacing cambuk (Trichuristrichiuria), dan cacing tambang (Ankylostomaduodenale dan Necatoramericanus). Penularan cacing ke manusia terjadi saat penderita mengeluarkan tinja yang mengandung telur cacing.Telur cacing akan mencemari tanah, air, dan tanaman. Ketika makanan yang mengandung telur cacing tidak dimasak dengan matang, maka telur cacing tersebut akan masuk ke usus halus dan berkembang menjadi cacing dewasa. Penularan juga terjadi jika penderita tidak cuci tangan sebelum makan atau menyajikan makanan disebut autoinfeksi.

Sejak tahun 2016, pemerintah khususnya DIY telah mengagendakan pemberian obat Pencegahan Massal (POPM) kecacingan, yaitu Albendazol pada bulan Agustus-September untuk anak Sekolah Dasar dan pemberian obat cacing dan vitamin A pada balita di Posyandu pada bulan September-Oktober. Pemberian obat cacing ini diharapkan dapat mencegah kecacingan pada anak dan mencegah dampak buruk dari kecacingan. Anak dengan kecacingan dapat menjadi mudah lelah dan rewel, kekurangan gizi, anemia, dan menganggu pertumbuhan sehingga timbulstunting. Sedangkan pada anak sekolah dapat menurunkan kemampuan belajar,sehingga prestasi menurun.

Kecacingan ditandai dengan rasa mual, muntah, kurang nafsu makan, lesu, perut buncit, diare, gatal pada dubur, dan keluar cacing dari mulut atau dubur.Pencegahan kecacingan dapat dilakukan dengan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan cuci tangan sebelum makan atau setelah BAB, minum air matang dan bersih, BAB di jamban, menutup makanan, dan memakai alas kaki.