MALU MALU: Memotret mahasiswi di Punjab University tidak mudah. Saat dipotret kadang menunduk, melengos bahkan balik badan. Apalagi berhadapan dengan orang asing mereka agak tertutup. (Foto Bahari)
Daftar tunggu haji atau waiting list reguler Indonesia yang panjang membuat jamaah haji melakukan berbagai cara. Yang punya uang lebih ya ikut haji plus yang daftar tunggunya lebih singkat. Setahun, hingga dua tahun. Yang uangnya pas pasan pasrah ikut aturan Kemenag lewat waiting list tadi. Tapi, tak sedikit ada yang nekat mencari kouta haji di Kedubes RI luar negeri. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Pakistan rajin sowan di KBRI Islamabad menjelang pemberangkatan haji 2011 silam. Mereka tak sekadar main, tapi ikut ‘’melobi’’ memperebutkan kouta jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan dari Islamabad.

Tak hanya mahasiswa, para staf KBRI dan saudaranya juga ikut antre agar bisa menjadi jamaah haji Indonesia yang berangkat dari Islamabad. Kouta visa haji yang dikeluarkan Kedubes Saudi Arabia untuk staf KBRI atau warga Indonesia di Islamabad jumlahnya sangat terbatas.

Bahkan ada beberapa staf KBRI yang nekat, berspekulasi mendatangkan saudara ke Pakistan empat atau tiga bulan sebelum keberangkatan haji. Tujuannya, ya memperebutkan kouta haji tadi.

Tapi, bagi mereka yang punya kerabat jadi staf KBRI di luar negeri ada peluang ikut berebut kouta haji.

Tentu dengan biaya lebih besar. Sebab, harus terbang ke negara yang dituju tadi. Biaya hidup tak sedikit selama masa menunggu. Setelah dapat visa harus terbang ke Jeddah dan bergabung travel. Selain biaya berlipat, mungkin tidak praktis. Kecuali punya saudara yang jadi staf KBRI setempat.

Kembali ke perebutan kouta haji. Kasak kasuk berebut ‘’kouta haji’’ di lingkungan KBRI tidak sampai muncul ke permukaan. Tapi, hanya sebatas diketahui lingkungan internal. Pada akhirnya yang menentukan bisa tidaknya mereka masuk ‘’daftar haji’’ tergantung rekomendasi duta besar yang dikirim ke Kedubes Saudi Arabia untuk mendapatkan visa haji.

Penentuan kuotanya tentu sangat selektif. Pihak Kedubes Saudi Arabia sebelum meluluskan memberikan visa haji bagi para staf KBRI khususnya bagi mereka berstatus mahasiswa harus melampirkan tiket pulang pergi Islamabad-Jeddah (PP). Itu untuk memastikan bahwa mahasiswa yang naik haji tadi akan kembali ke Pakistan menuntaskan kuliahnya.

Beberapa kali penulis tanya soal itu ke mahasiswa yang ikut berebut kouta haji. Tapi, mereka selalu menghindar. Bahkan, beberapa di antaranya curiga kalau penulis ikut-ikutan memperebutkan kouta haji yang jumlahnya sangat terbatas itu.

GAYENG: Bahari saat wawancara dengan mahasiswa Indonesia yang kuliah di kota Lahore, Propinsi Punjab, Pakistan. (Foto Dok Bahari)

Tak hanya mahasiswa, para staf KBRI Islamabad juga tertutup, enggan membicarakan perebutan kouta haji. Sebagian juga curiga kalau penulis ikut memperebutkan kouta haji di lingkungan KBRI Islamabad.

Sekarang mahasiswa Indonesia di Pakistan ikut berebut kouta haji di lingkungan KBRI Islamabad karena temus atau tenaga pembimbing haji musiman yang dulu melibatkan mahasiswa termasuk mahasiswa asal Pakistan resmi dihapus Kemenang. Hanya mahasiswa terdekat dengan Saudi Arabia yang masih diberi kesempatan menjadi pembimbing haji. Misalnya, mahasiswa Indonesia di Mesir dan Yaman.

Dulu sebelum penghapusan temus, bagi mahasiswa yang terpilih secara bergiliran menjadi temus atau pembimbing haji tak hanya bisa naik haji gratis. Tapi, mendapat imbalan cukup menggiurkan. Antara, USD 2.000-3.000.
Itu tahun 2001 saat penulis singgah di Islamabad dari meliput perang di Afghanistan. Kalau kurs USD 1 saat itu sekitar Rp 10 ribu. Maka, mahasiswa mengantongi Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Bisa untuk biaya hidup dan bayar kuliah selama satu atau dua semester. Tapi, risikonya mahasiswa tadi harus cuti satu sementer karena masa pembimbing haji cukup lama. ‘’Jadi ya terpaksa cuti kuliah,’’ aku seorang mahasiswa saat itu.

Itu karena sebelum prosesi haji, para temus harus lebih dulu sampai di Makkah atau Madinah untuk menyambut kedatangan dan membimbing jamaah haji. Mereka dibagi-bagi sesuai kebutuhan kelompok haji. Misalnya, mahasiswa asal Makassar diupayakan menjadi pembimbing jamaah haji asal Sulawesi Selatan agar paham bahasa dan budaya, sehingga memudahkan kelancaran membantu para jamaah. Saat kepulangan mereka pun paling akhir. Setelah semua jamaah haji dipastikan pulang ke Indonesia.

Setelah dapat visa haji, jamaah haji asal Islamabad biasanya bergabung dengan pengelola travel dari Indonesia selama menunaikan ibadah haji di Makkah. Sebagaian besar bergabung travel OHN plus. Itu penulis ketahui karena bertemu seorang staf KBRI Islamabad bergabung travel ONH plus di Mina saat lempar jumroh.

Jadi, mereka yang berangkat haji menggunakan kouta haji dari Pakistan, misalnya, sesampainya di Arab tetap bergabung dengan maktab yang dikelola travel guna memudahkan untuk prosesi ibadah haji.

Tapi, sebagaian tidak bergabung travel dan melakukan haji mandiri seperti dilakukan para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Pakistan .

Salah satunya Zein Amzal, salah satu mahasiswa Indonesia yang kuliah di Internasional Islamic University Islamabad (IIUI) mengaku naik haji bersama enam rekannya sesama mahasiswa secara koboy Islamabad, Pakistan.

Koboi di sini artinya, hanya bermodal visa haji plus tiket pulang pergi –Islamabad-Makkah pp. Soal biaya penginapan, makan dan biaya hidup selama di Makkah mereka akan tutupi dengan kerja secara serabutan di Makkah.

‘’Pokoknya apa saja kami lakukan agar bisa bertahan hidup selama menunaikan ibadah haji. Yang penting halal dan bisa menunaikan ibadah haji,’’ kata Zain.

Caranya, pertama mencari penginapan murah yang dikhususkan bagi mahasiswa seluruh dunia. ‘’Yang penting ada tempat manaruh koper. Kadang seminggu sekali kami pulang hanya untuk ganti pakaian atau cuci pakaian,’’ jelasnya

Kedua, mencari kerja apa saja asal bisa hidup selama di Tanah Suci. Ada temannya yang menjual jasa dorong kursi bagi mereka yang sakit saat tawaf, jadi guide jamaah haji ke tempat bersejarah, bekerja di travel, membantu katering, dan ada yang berjualan. ‘’Kami haji resmi hanya cara hidup yang berbeda dengan jamaah lain. Makanya, kami disebut haji koboi,’’ tutur pria kelahiran Aceh itu.

Bahkan sebagaian mahasiswa tadi membawa barang dagangan untuk bertahan hidup selama di Makkah. Kulakan jaket kulit di Pakistan yang harganya lebih murah nanti dijual di Arab dengan harga tinggi. Banyak juga mahasiswa yang membawa dagangan lain. ‘’Yang jelas bisa dijual mahal di Arab agar bisa menutupi biaya tiket,’’ ujar seorang mahasiswa tadi. (yog/bersambung)