Aneka kegiatan menyambut acara pitulasan membuat peringatan HUT ke-73 RI di Gunungkidul kian semarak. Satu kegiatan paling ditunggu-tunggu adalah pembentangan kain merah putih berukuran jumbo di lereng Gunung Api Purba, Nglanggeran, Patuk. Seperti apa persiapannya?
GUNAWAN, Gunungkidul

PENGIBARAN bendera merah putih lazim dilakukan masyarakat Indonesia menyambut Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Beragam cara dilakukan masyarakat demi menyambut HUT ke-73 RI tahun ini. Apa yang dilakukan warga Gunungkidul kali ini tergolong ekstrem, namun unik. Bentuk penghormatan simbol negara itu diwujudkan dengan membentangkan kain merah putih berukuran 42 x 28 meter persegi di lereng Gunung Api Purba. Tepatnya di kawasan tower Gunung Buchu.

Kain raksasa itu akan dibentangkan untuk menyelimuti wajah Gunung Api Purba. Butuh perjuangan berat untuk melakukan pekerjaan luar biasa itu. Dan tentu saja hanya orang-orang terlatih yang bisa melakukannya.

Selasa (7/8) Radar Jogja berkesempatan menyaksikan persiapan hajatan besar itu. Bidang Promosi dan Marketing Pokdarwis Nglanggeran Aris Budiono bercerita panjang lebar dari awal hingga akhir rencana. Mulai mengumpulkan warga, hingga koordinasi dengan tim khusus yang bertugas membentangkan merah putih. “Merah putih dibentangkan pada Senin 13 Agustus 2018 sekitar pukul 09.00,” katanya antusias.

Mengingat tugas dan tanggung jawab yang berat, persiapan dilakukan jauh-jauh hari demi sukses acara. Bukan hanya menentukan personelnya. Para peserta harus mencari rute dan menentukan titik terbaik sebagai lokasi pembentangan merah putih. “Lokasi tower Gunung Buchu berjarak sekitar satu kilometer dari parkiran Embung Nglanggeran,” ungkap Aris.

Menjadi tantangan tersendiri bagi Aris untuk mencari rute menuju Gunung Buchu. Faktor keselamatan tim menjadi pertimbangan utamanya. Sebab, mereka harus babat alas di tengah hutan di kawasan medan yang sulit. Jalur yang dilewati tak selalu berupa jalan setapak. Tanjakan tajam dan turunan curam dan berbatu di antara pepohonan dan rumput liar. “Warga setempat bertugas mencari rute. Sedangkan tim khusus menyiapkan lokasi untuk membentangkan kain merah putih di antara bebatuan gunung,” jelasnya.

Sekenario berikutnya adalah membawa merah putih raksasa dari start ke finish. Bagaimana caranya? Kain merah putih seberat 2,5 kuintal nantinya akan dipikul secara bergantian. Adapun tim pemikul terdiri atas 35 orang. Sesampai di lokasi sudah ada tim khusus yang akan menerima kain itu untuk kemudian membentangkannya. “Selain merah putih raksasa, nanti juga ada pengibaran seribu bendera ukuran standar,” ucapnya.

Sementara bagi Andi Ardi, membentangkan merah putih raksasa bakal menjadi pengalaman perdananya. Sosok yang ditunjuk sebagai ketua tim khusus pembentang merah putih itu sudah sering terlibat dalam berbagai kegiatan ekstrem. Namun, membentangkan kain raksasa menjadi tantangan baru. “Kami bersama Gorila Adventure dibantu mapala dari dua perguruan tinggi siap menjalankan tugas ini,” ujarnya.

Andi memperkirakan hal tersulit dari pembentangan merah putih raksasa adalah saat membawa kain itu secara estafet dari tempat start ke finish. Serta ketika menurunkan kain di lokasi ekstrem dan membentangkannya dari ujung ke ujung lereng. Meski sulit, Andi optimistis, semua prosesnya dapat terlaksana sesuai rencana. “Begitu kain merah putih sampai ke tangan, giliran kami beraksi. Tidak mematok jam selesai. Yang penting kain merah putih harus terbentang hari itu,” katanya. (yog/fn)