JOGJA – Jalan Malioboro Jogja akan ditutup sekitar pukul 19.00 malam ini. Atau menjelang kehadiran Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X di acara dhahar kembul yang dihelat di sepanjang jalan ikon Kota Jogja itu. Jalan tersebut akan dibuka kembali setelah acara.
Pada acara tersebut masyarakat Jogjakarta berkesempatan duduk lesehan bersama gubernur dan wakil gubernur DIJ. Menyantap nasi tumpeng di sepanjang Jalan Malioboro Jogja. Acara dhahar kembul ini menjadi bagian dalam rangkaian Bulan Pancasila 2018. “Masyarakat silakan hadir, tidak pakai undangan,” pinta Widihasto Wasana Putra, koordinator acara dhahar kembul, Senin (6/8).

Hasto menjelaskan, nasi tumpeng dipilih sebagai sajian bukan semata-mata sebagai salah satu menu kuliner khas Jogjakarta. Lebih dari itu karena tumpeng sarat filosifi budaya Jawa. Yakni, sangkan paraning dumadi dan manunggalung kawula Ian gusti. Bentuknya yang kerucut mencerminkan perjalanan manusia akan kembali kepada Tuhan. “Perilaku manusia pun harus dilandasi hal yang baik. Dengan nilai Pancasila,” ujar Hasto, Senin (6/8).

Hingga kemarin tercatat sedikitnya ada 240 nasi tumpeng sumbangan warga yang akan disajikan dan dimakan bersama di acara dhahar kembul. Tumpeng berasal dari beragam elemen masyarakat. Mulai warga pedesaan, juru parkir, pedagang kaki lima, paguyuban kusir andong, pelaku usaha kecil dan mikro menengah, hingga organisasi masyarakat.

Sumbangan tumpeng ini menunjukkan gotong royong masyarakat Jogjakarta. Tumpeng yang disajikan cukup variatif. Tak hanya berupa nasi kuning. Ada pula nasi putih dengan gudangan, buah-buahan, dan sayur. Tumpeng rencananya akan disebar di 17 titik. “Setahun yang lalu terkumpul 2.750 nasi bungkus dalam waktu satu minggu. Masyarakat Jogja ternyata peduli terhadap tema kebangsaan,” ujar Hasto.

Sedangkan konsep lesehan dipilih agar gubernur dan wakil gubernur DIJ memiliki kesempatan duduk bersama masyarakat. Acara digelar pada Selasa Wage, yang merupakan hari libur berjualan bagi para pedagang di kawasan Malioboro. Ini bertujuan menyeimbangkan aktivitas sosial para pedagang.
Menurut Hasto, Kota Jogja bisa menjadi contoh bagi daerah lain dengan adanya hari libur jualan bagi para pedagang. Ini model bagus supaya masyarakat Indonesia tidak melulu bekerja mencari materi. Karena umumnya pasar di Indonesia tidak mengenal libur. “Agar ada jeda untuk merefleksikan kehidupan sosial. Trotoar juga diberi kemerdekaan setidaknya sehari, untuk dibersihkan,” tuturnya.

Adapun putri sulung gubernur DIJ GKR Mangkubumi mengungkapkan antusiasmenya terhadap acara ini.
“Kebetulan 14 Agustus itu HUT Pramuka. Minggu ini kami roadshow mengunjungi kwarcab. Untuk Bulan Pancasila besok (hari ini) fokus di Malioboro,” ungkap Mangkubumi yang juga Ketua Kwarda Gerakan Pramuka DIJ. (tif/yog/mg1)