Alun-Alun Purworejo kian menjadi primadona masyarakat. Berbagai fasilitas olahraga, permainan, dan ruang bersantai menjadi magnetnya. Di balik “kecantikan” alun-alun itu, ada sosok yang selalu dibuat sibuk menjaganya dari tangan-tangan jahil maupun tindakan tak terpuji lainnya.

BUDI AGUNG, Purworejo

SUASANA pagi itu begitu dingin. Maklum, kondisi cuaca belakangan ini kian tak menentu. Suhu dingin menusuk tulang setiap pagi dan malam. Dinginnya terpaan udara bersih tak menyurutkan warga Purworejo untuk datang ke alun-alun. Ya, lapangan luas di jantung kabupaten ini kini seolah menjadi destinasi wisata baru.

Dulu hanya segelintir orang yang mau berolahraga di sekitar alun-alun. Itu pun paling hanya lari pagi.
Saat ini, adanya fasilitas olahraga cukup ampuh menarik lebih banyak orang datang di alun-alun. Meski tak sedikit pula yang sekadar duduk-duduk menikmati hawa sejuk pagi.
Yang sedang tak minat berolahraga pun banyak hadir di alun-alun yang konon terluas se-Pulau Jawa itu.

Meski para PKL telah dipindah di taman bermain anak dan kompleks Romansa Kuliner, susana alun-alun tiap pagi dan malam tetap semarak.
Umumnya alun-alun yang menjadi jujukan masyarakat sebagai sarana berkumpul keluarga. Namun, tak sedikit yang menyalahgunakan alun-alun sebagai tempat temu kangen. Biasanya kalangan muda-mudi. “Memang tidak gampang mengelola masyarakat di fasilias publik. Apalagi alun-alun ini sangat luas dan kompleks,” ujar Triyo Hadi Purtranto, salah seorang penjaga Alun-Alun Purworejo.

Selain muda-mudi pacaran, pria 39 tahun itu kerap menjumpai trotoar di seputar alun-alun yang diubah fungsinya oleh pengunjung sebagai tempat parkir sepeda motor. Bahkan di jalan kecil yang menjadi akses masuk alun-alun kerap terparkir sepeda motor.

Biasanya anak-anak muda sengaja memarkir motor di atas trotoar untuk berfoto. Atau menerobos masuk ke lapangan sambil mengendarai motor, menuju bawah pohon beringin besar.

Setelah ditata ulang, bagian tengah alun-alun yang dulunya bisa untuk nongkrong kini tak begitu nyaman lagi untuk duduk-duduk. Karena konstruksinya dibuat miring.

Ini memang disengaja, karena titik tersebut kerap menjadi lokasi perbuatan tidak baik muda-mudi. Sebab, lokasinya cukup jauh dari aktivitas masyarakat. “Tugas kami memang kelihatan hanya jalan-jalan di alun-alun. Tapi bebannya tidak sedikit,” kata lelaki yang tinggal di kawasan Demangan, Kecamatan Banyuurip. “Yang paling sulit itu kalau harus ngopyak-opyak orang pacaran.

Anak sekarang itu lebih berani,” sambung Triyo yang bergabung dengan UPT Alun-Alun Purworejo sejak Ramadan lalu. Bersama lima teman lainnya, tugas penjaga alun-alun memang tak ringan. Mereka harus memantau keadaan alun-alun. Mulai kebersihan, kenyamanan, hingga keamanannya bagi pengunjung. Mereka bekerja dibagi tiga shift setiap hari. “Sudah risiko kami, Mas. Tugas kami ya seperti itu. Belum lagi kalau ada PKL
yang mencoba-coba jualan di alun-alun. Biasanya kami dibantu petugas Satpol PP,” ucapnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo Agung Wibowo sejak awal menginginkan kawasan alun-alun menjadi ruang terbuka yang ramah bagi siapa pun. Makanya, ditunjuklah penjaga alun-alun. Untuk memberikan edukasi bagi masyarakat. “Tugas mereka tidak sekedar mubeng-mubeng alun-alun, tapi ada tugas yang lebih penting. Misalnya memberi contoh buang sampah pada tempatnya, dan lain-lain,” tuturnya.
Para penjaga alun-alun juga harus paham kondisi Purworejo. Khususnya kekayaan pariwisatanya.

Jika ada pengunjung yang tanya tentang destinasi wisata, penjaga alun-alun harus bisa menjawab dengan baik. Setiap dua jam sekali mereka wajib mengelilingi alun-alun sambil menghitung perkiraan jumlah orang yang berada di kawasan itu. “Kalau ada pemandangan yang ganjil, harus segera diatasi oleh mereka,” ujar Agung.

Untuk keperluan patroli, pemerintah setempat menyediakan dua unit sepeda onthel. Agar penjaga alun-alun tak kecapekan saat harus mengitarinya.
Sepeda dinas penjaga alun-alun dilengkapi tas besar di bagian kanan dan kiri jok belakang. Tas tersebut berisi tool kit dan pamflet atau guide book jika ada warga yang membutuhkan. Sedangkan tool kit berfungsi untuk membetulkan perkakas olahraga yang rusak ringan. Jika kerusakannya parah, maka penjaga alun-alun akan mendatangkan teknisi khusus. (yog/mg1)