JUJUKAN TURIS: Pasar tradisional Mutra Sauq di kota Muscat yang menyediakan cendera mata khas negara Arab jadi surga belanja para turis dengan harga sangat terjangkau. (Foto Dok Bahari)
Ke Oman tidak mampir ke Mutra Sauq, Muscat, tidaklah lengkap. Pasar tradisional cikal bakal kota bandar Muscat ini jadi pusat oleh-oleh wisatawan khas Oman. Di sini turis bisa memburu cenderamata khas Oman dengan harga terjangkau.

SIANG itu (30/10/2011) hanya sebagaian pedagang di Pasar Mutra Sauq yang membuka kiosnya. Selebihnya masih tutup. Di bagian lain beberapa pedagang mulai menggelar dagangnya di sudut trotoar. Layaknya pedagang kaki lima di Indonesia saat membuka lapak.

Lokasi kios dan toko di sepanjang lorong kawasan Mutra Sauq sangat rapi dan bersih. Juga tertata hingga enak dilihat. Jalan untuk pembeli juga sangat lebar hingga wisatawan leluasa memilih barang yang disukai di toko disingahi.

‘’Biasanya kios mulai buka jam lima sore. Kalau sekarang (pukul 15.00) hanya sebagaian kios yang buka,’’ ujar Arifin, tenaga kerja Indonesia yang sudah dua tahun bermukim di Oman. ‘’Kalau jam 19.00 sampai 21.00 pengunjung membeludak. Pasar ini jadi jujukan turis lokal dan mancanegara,’’ tambah pria asal Cianjur itu. Tampak beberapa turis mancanegara siang itu menyusuri lorong pasar meski hanya sebagaian yang buka.

Penulis pun menyusuri Mutra Sauq. Kondis jalan yang berupa lorong panjang sangat bersih. Tidak ada tumpukan sampah seperti kerap terlihat di pasar tradisional Indonesia. Atap bangunan pasar rata-rata tinggi, sehingga tidak terkesan sumpek.

Beberapa toko membakar semacam dupa atau kemenyan untuk mengharumkan ruangan dan lingkungan sekitar mereka. Baunya sangat khas, wangi dengan asap tebal. Jadinya turis yang melintas menghirup asap wangi tadi.

Mungkin sambil menunggu pembali, beberapa warga berpakaian khas Oman berupa baju gamis putih dengan kopiah sedikit lebih tinggi dari topi umumnya, duduk bersila mengelilingi semacam permainan dadu. Mereka tidak berjudi, tapi sekadar main mengisi waktu luang. Bentuk dadu bukan bulat, melainkan persegi panjang. Mereka tampak asyik mengocok alat itu. Sesekali terdengar tawa mereka.

Di sini siapa pun bisa membeli oleh-oleh apa saja. Baik khas Oman maupun pernik-pernik negara Timur Tengah lainnnya. Mulai kopiah khas Oman, gelang, aneka asksesori kalung, dan aneka cenderamata seperti bendera, lambang negara, sampai aneka minimatur bangunan khas Oman.

Wisatawan juga bisa mendapatkan aneka baju gamis, mainan anak-anak, slayer, sajadah, aneka baju wanita. Bahkan aneka baju olahraga dijual di sini. Juga aneka makanan kering mulai roti, kismis, aneka kerupuk terbuat dari udang dan ikan. Pendekanya, apa yang dibutuhkan para turis di sini tersedia dengan harga terjangkau. Tak heran, jika Mutra Sauq jadi jujukan utama turis yang datang ke Muscat.

Jika capek menyusuri lorong Mutra Suaq, wisatawan bisa nongkrong di berbagai warung dan restoran yang ada di sepanjang pasar ini. Aneka makanan tersedia di sini. Baik masakan khas Oman maupun negara Islam lainya. Seperti Pakistan, Mesir, dan lainnya.

Jus yang disediakan para pedagang pun benar-benar rasa buah. Artinya, tidak ada campuran bahan kimia lain hingga terasa seperti buah aslinya. Harganya pun cukup murah hanya 100 Baisa atau hanya seperlima Rial, mata uang Oman. Setara Rp 5.000.

Di sekitar Pasar Mutra Sauq juga berdiri banyak bank, rumah makan, dan restoran. Hingga pembeli tidak perlu repot-repot kalau hanya ingin sekadar makan, mengambil uang atau menukarkan uang juga banyak tersedia money changer.

Kafe dan restoran di sini menggelar tenda di pendestrin yang lebar. Hingga pengujung bisa melihat warga yang melintas di troroar jalan.

Dari tempat ini pengujung juga bisa menyaksikan Pelabuhan Oman yang berada di teluk. Pemandangan sangat eksotik. Jarak Mutra Sauq atau deretan kafe tadi hanya dipisahkan jalan dua jalur yang bersih dan lebar. Hingga kapal dan perahu nelayan yang bersandar di teluk bisa disaksikan secara jelas.

KOTA NELAYAN: Kota Muscat yang modern bermula dari desa nelayan yang berkembang jadi kota bandar sangat ramai dan pelabuhan rakyat yang masih dipertahankan. (Foto Dok Bahari)

Trotoar sepanjang pelabuhan yang berada di teluk kalau sore hari hingga malam sangat ramai. Semua warga Muscat maupun Oman biasanya tumplek blek di sepanjang jalan yang berbatasan langsung dengan laut.

Benar-benar eksotik dengan udara semilir karena kini menjelang memasuki musim dingin. Warga pun bisa memarkir mobil atau kendaraan di jalan dekat pantai yang cukup panjang itu.

Tak heran muda –mudi Oman juga banyak menghabiskan waktu di dekat pantai ini. Tapi, gaya pacaran mereka tidak blak-blakan. Terlihat mereka hanya duduk dan ngobrol santai. Sebab, warga Oman seperti halnya negara Isalam lainya sangat menjunjung tinggi ajaran dan nilai-nilai Islam.

‘’Di Oman sangat aman. Parkir mobil enak, ke mana-mana aman. Kalau di Saudi hampir setiap hari ada razia. Selama dua tahun di Oman saya tidak menyaksikan sekali pun ada razia,’’ ujar Arifin yang menemani penulis.

Tak jauh dari Mutra Sauq, ada pelabuhan tradisional yang merupakan cikal bakal kota bandar Muscat. Sampai kini pelabuhan itu masih berfungsi dan digunakan sebagai sandaran perahu nelayan.

Bahkan setiap pagi, warga Muscat bisa`membeli ikan segar dari para nelayan yang baru pulang melaut. Suasananya, pasar ikan yang menyatu dengan pelabuhan nelayan itu mirip ratusan tahun lalu.

Hanya kini sudah tertata lebih rapi. Tidak becek dan bau seperti pelabuhan nelayan tradisional pada umumnya. ‘’Selain segar, harga ikan juga lebih murah daripada di pasar umumnya,’’ ujar Arifin. (yog/bersambung)