JOGJA – Ketidakpastian kepemimpinan di sebuah negara terjadi. Presiden dikabarkan tewas oleh orang tidak bertanggung jawab. Tak jelas apa sebabnya, namun seorang kolonel menutupi fakta tentang kematian presiden tersebut.
Demikian sepenggal sinopsis dari lakon Presiden Kita Tercinta. Cerita tersebut dipentaskan Teater Tapak Sebelas SMAN 11 Jogjakarta di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Sabtu malam (4/8).

“Pentas kali ini, kami mendaptasi naskah Agus Noor. Naskah tersebut diadaptasi dari masa pemerintahan Soeharto,’’ ujar pimpinan produksi Salomo Kristalino.
Teater Tapak Sebelas ingin mengedukasi anak muda bisa memilih presiden dengan cerdas. ‘’Berkaitan dengan tahun depan dilaksanakan pemilu presiden,” kata Salomo.

Lakon tersebut dikemas fresh dan unik. Sesuai target penonton anak muda. Kekacauan akibat hilangnya sosok pemimpin diwujudkan dengan adegan pemilihan presiden yang dipilih dengan melempar koin.
Tawa penonton membahana menyaksikan adegan tersebut. Ada pula adegan aksi protes buruh dan mahasiswa menjadi pelengkap dalam pentas tersebut.
“Dalam seni tidak ada perbedaan usia, warna kulit, atau status sosial. Semua orang bebas berekspresi dan berkarya melalui seni,” ujar Kepala SMAN 11 Jogjakarta Rudy Rumanto.

Sekolah memberikan kesempatan siswa yang tergabung dalam Teater Tapak Sebelas menunjukkan bakat seninya.
Melalui pentas tersebut penonton diajak memahami keadaan sosial sebuah negara. Pentas tunggal tahunan Teater Tapak Sebelas tahun ini adalah kali ke-14.

“Saya dan teman-teman berharap pentas kali ini agar warga paham dengan kondisi pemerintahan era Presiden Soeharto,’’ ujar Koordinator Humas Salwa Rasendriya. (san/zet/iwa/mg1)