Baru dua tahun beroperasi, Bank Sampah Wirosaban Mandiri (BSWM) sudah berhasil menjadi bank sampah terbaik ketiga se-Kota Jogja tahun 2017 lalu. Dari hasil sampah, mereka bisa piknik hingga bakti sosial.

HERU PRATOMO, Jogja

Rumah Ketua RT 58/RW 17 Sutjahjo di Perumahan Pemda, Wirosaban, Sorosutan, Umbulharjo, beberapa waktu lalu ramai dengan warga yang berseragam biru. Malam itu para ibu-ibu kompak memakai jilbab oranye. Di kemeja biru itu tertulis BSW Mandiri atau Bank Sampah Wirosaban Mandiri. Rumah Sutjahjo itulah kantor BSWM.

“Kebetulan sedang kumpul, persiapan jelang penilaian Adipura tahap dua,” ujar Direktur BSWM Esti Dwi Astuti. BSWM terpilih menjadi lokasi penilaian Adipura untuk bank sampah yang dilakukan tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan minggu ini.

Tidak hanya menjelang penilaian Adipura saja anggota BSWM berkumpul. Minggu ketiga setiap bulannya mereka juga kumpul untuk transaksi penyetoran sampah. “Kalau kumpul selalu rapi pakai sepatu dan seragam. Ada lima seragam,” tambah Sekretaris BSWM Pujanti Ningrum.
Ya, pada minggu ketiga bertempat di pos ronda kampung menjadi lokasi penimbangan sampah rumah tangga dari 78 nasabah BSWM. Sampah an organik dari warga sudah dikelompokkan berdasarkan jenisnya, seperti plastik, kertas, dan logam.

Tiap jenis sampah juga memiliki harga berbeda dari pengepul. “Yang harganya ajek gelas air mineral Rp 4.000 per kilogram. Kalau botol malah Rp 2.000 per kilogram,” ujar Puja.
Dari catatannya pada 2017, BSWM berhasil mengumpulkan 4,8 ton sampah dengan rata-rata tiap transaksi mengumpulkan Rp 700 ribu-Rp800 ribu. Hasil kesepakatan, maksimal 90 persen ditabung, lima persen untuk kas dan lima persen untuk operasional.
Tabungan itulah yang dipakai untuk piknik bareng atau kegiatan sosial. “Bukan rupiah yang dicari, tapi lingkungan yang bersih dan guyub,” jelas pengajar di SMP 5 Jogja itu.

Puja menambahkan, BSWM yang didirikan pada 17 Januari 2016 itu tidak hanya menyetorkan sampah an organik ke bank sampah. Mulai 2017 lalu, difasilitasi kelurahan juga mulai berkreasi membuat kerajinan dari sampah.
Sampah yang disetor ke bank sampah tinggal yang tidak bisa termanfaatkan. Saat ini paling tidak sudah membuat bros dari kresek, bunga dari sabun, lampion dari botol bekas, atau tempat tisu. “Sekarang baru mencoba buat ecobrick untuk kursi,” terangnya sambil mengatakan untuk pembuatan kerajinan baru bisa kumpul dua bulan sekali.

Untuk sampah organik juga menjadi perhatian BSWM, dengan dijadikan pupuk kompos. Di halaman depan rumah tiap anggota, juga sudah dibuatkan lubang biopori untuk memasukkan sampah organik. Kompos yang dihasilkan pun dimanfaatkan untuk pupuk berbagai jenis bibit tanaman, seperti cabe atau terong. “Ke depan sudah direncanakan untuk pembuatan komposter,” ungkapnya.

Aktivitas BSWM pun tidak berhenti di situ. Mereka juga aktif melakukan kerja bakti bersama. Hal itu juga sebagai upaya mengajak warga RT lainnya untuk peduli lingkungan. Apalagi BSWM merupakan bank sampah baru setelah bank sampah lama yang dikelola RW tidak aktif.

Diakui masih ada warga RT lain yang belum peduli kebersihan atau pengelolaan sampah. Untuk mengingatkan, anggota BSWM sering menyapu di depan rumah itu. “Harapannya dia risih dan besoknya mau bersih-bersih sendiri,” jelas Esti.
Terbiasa berkecimpung dalam sampah juga berimbas pada kegiatan sehari-hari mereka di kantor. Puja di antaranya yang mengaku setelah rapat di sekolah terbiasa melepas dus snack dan dibawa pulang. Bahkan anak-anak juga mulai terbiasa membawa pulang plastik atau kresek setelah jajan.

“Banyak teman yang awalnya merasa aneh, sampah kok dibawa pulang. Tapi setelah tahu, akhirnya banyak yang ikut, kan juga mengurangi sampah yang dibuang,” tuturnya. (laz/mg1)