JOGJA – Pemkot Jogja mengklaim penyerapan dana keistimewaan (Danais) tidak mengalami hambatan.

Salah satunya dalam bidang kebudayaan yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja. Meski untuk realisasi pekerjaan fisik dan keuangan masih rendah hingga semester pertama 2018.

“Sudah banyak kegiatan, terutama nonfisik yang dikerjakan. Cuma masalah administrasi saja, sehingga terkesan realisasi anggaran masih kecil,” ujar kepala Disbud Kota Jogja Eko Suryo Maharso kemarin (4/8).

Disbud Kota Jogja pada tahun anggaran 2018 ini mengelola Danais sebesar Rp 11 miliar dari total Rp 25,3 miliar yang dikelola oleh Pemkot Jogja.

Danais yang dikelola Disbud Kota Jogja tersebut terbagi Rp 9 miliar untuk kegiatan nonfisik dan Rp 2 miliar untuk fisik.

Eko mencontohkan untuk kegiatan nonfisik yang sudah dilakukan seperti penyelenggaraan pentas tiap Rabu malam di kantor Disbud Kota Jogja di Kotagede. Pada Agustus ini juga sudah dimulai berbagai pentas seni di wilayah yang dikerjakan kelurahan rintisan budaya.

“Sekarang ini sudah ada 16 kelurahan rintisan budaya di Kota Jogja,” ungkapnya.

Sedang untuk kegiatan fisik, mantan kepala Dinas Kimpraswil Kota Jogja itu menyebut seperti pengadaan pendapa gaya lawasan Kotagede sebagai pengganti pendapa di depan Kantor Disbud Kota Jogja. Pendapa yang dipilih jenis pendapa Karang. “Kami sesuaikan dengan arsitektur budaya di sekitarnya,” jelas dia.

Selain itu juga sudah disiapkan Danais untuk perbaikan sejumlah ndalem. Salah satunya adalah Ndalem Notoyudan. Di sana akan dilakukan perbaikan atap atau genting yang rusak. Setelah itu, lanjut dia, bangunan tersebut akan dimasukan dalam bangunan cagar budaya.

Disamping urusan kebudayaan, Pemkot Jogja juga mengelola Danais yang diperuntukan urusan pertanahan dana tata ruang. Di antaranya pembuatan jalur pedestrian di sepanjang Jalan Suroto, Kotabaru.

Sebelumnya Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti juga pernah mengusulkan penambahan Danais untuk Pemkot Jogja, khususnya yang diperuntukan bagi penataan wajah Kota Jogja. (pra/ila/mg1)