JOGJA – Bagi Fakhri, menjadi warga negara Indonesia berarti otomatis harus mengamalkan Pancasila sebagai way of life. Seharusnya seluruh warga Indonesia mengakui bahwa dasar hidup bernegara adalah Pancasila.

“Generasi apapun, tua, muda, kaya, miskin, maka harus bicara dengan tegas bahwa Pancasila adalah dasar hidup berbangsa dan bernegara. Menjadikan Pancasila yang utama,” kata Ketua OSIS SMAN 8 Jogja Muhammad Fakhri.

Adapun dalam hidup sehari-hari Fakhri mengambil hubungan sila pertama dan kedua Pancasila. Meskipun semua sila terhubung satu sama lain, hubungan sila pertama dan kedua menjadi fondasi menjalani kehidupannya pribadi maupun organisasi.

“Semua sila itu terhubung. Tidak bisa dipahami satu-satu. Tapi harus dilihat dan dimaknai sebagai satu kesatuan. Hubungan antara sila pertama dan kedua membuatku memiliki pola pikir untuk terus mempertahankan dan menghargai perbedaan. Menjunjung tinggi pluralisme,” kata Fakhri.

Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah dua sila yang menurut Fakhri menjunjung tinggi penghargaan atas perbedaan. Bukan untuk saling membedakan, tapi mau untuk saling memahami.

“Memahami semua pihak dengan kepercayaan masing-masing. Tidak perlu merasa bahwa itu semua menjadi sebuah batas pergaulan tapi sebagai hal yang mewarnai kehidupan bermasyarakat,” imbau Fakhri.

Menjadi Ketua OSIS sebagai pemimpin tertinggi organisasi siswa di sekolah tidak lantas membuat Fakhri bisa mengambil keputusan seenaknya. Dengan memaknai Pancasila, dia menjadi pemimpin yang selalu berusaha mendengarkan apa yang diinginkan rekan-rekannya.

“Pengambilan keputusan tidak boleh mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan kepentingan organisasi. Kita harus dahulukan mana yang berguna untuk orang banyak,’’ kata Fakhri.

Tidak boleh egois atau mau menangnya sendiri. ‘’Pancasila mengajarkanku agar mengutamakan musyawarah dalam pengambilan keputusan,” ujar Fakhri. (*/ata/iwa/fn)