JOGJA – Pemerintah benar-benar total menyambut Asian Games 2018. Sebagai penyelenggara event olahraga se-Asia itu, sekaligus menyambut HUT ke-73 RI, pemerintah menunjukkan kekuatan kepada dunia. Dengan menggelar senam masal poco-poco seretantak di seluruh Indonesia Minggu (5/8). Bahkan, para nara pidana (napi) di setiap lembaga pemasyarakatan (lapas) turut dilibatkan. Para napi menjadi satu kesatuan dari 65 ribu peserta senam poco-poco masal se-Indonesia.

Seperti di Lapas Kelas II B Wirogunan Jogja dan Lapas Narkotika Jogjakarta di Pakem, Sleman.

“Ada 338 lapas dan 219 rumah tahanan se-Indonesia. Total 120 napi ikut poco-poco untuk pecahkan rekor dunia peserta senam terbanyak,” ujar Kalapas Wirogunan Retno Yunihardiningsih.

Pelibatan napi bukan tanpa alasan. Yakni untuk meningkatkan rasa nasionalisme para napi. Sekaligus mengajak mereka hidup sehat dengan berolahraga.

Adapun napi yang terlibat di Lapas Wirogunan sebanyak 122 orang. semuanya perempuan. Kemeriahan senam poco-poco juga tampak di Lapas Narkotika Jogjakarta. Apalagi seluruh peserta senam mengenakan kostum rancangan mereka sendiri. Berupa rumbai-rumbai dari tali rafia warna merah putih. Sedangkan untuk mahkota dibuat dari daun pohon yang tumbuh di dalam lingkungan lapas.

Sebanyak 53 warga binaan terlibat. Marcelinus Merro,30, salah seorang di antara peserta senam itu. Pria kelahiran Flores ini berdiri di barisan terdepan. Dia ikut memimpin gerakan semam poco-poco.

“Wah jelas senang sekali, saya langsung mengajukan diri saat ada penawaran dari petugas lapas. Bangga juga bisa ikut partisipasi dalam pemecahan rekor dunia,” ungkapnya usai senam.

Bagi Merro ada kepuasan tersendiri bergabung dalam pemecahan rekor dunia ini. Lewat kegiatan itu pula hobi menarinya bisa tersalurkan. Apalagi sejak lama dia paham pola gerak senam poco-poco.

“Ada sembilan gerakan variasi baru. Ini tantangannya,” ungkap Merro yang mengaku hanya punya waktu efektif seminggu untuk menghafal semua gerakan baru poco-poco.

Para napi berlatih dengan melihat rekaman video. Namun, gerakan dasar dihafal lebih dulu tanpa melihat video. “Sebenarnya mudah, dua langkah kaki ke kanan, kiri maju dan ke belakang. Setelahnya baru mempelajari gerak variasinya,” ujar ketua RT Blok Cempaka ini.

Kalapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta Erwedi Supriyatno turut terlibat dalam senam poco-poco pemecahan rekor dunia ini. Dia bahkan berdiri paling depan dan memimpin pegawai serta warga binaan lapas narkotika. “Seluruh lapas dan rutan se-Indonesia terkoneksi live video secara bersamaan. Dimulai sekitar pukul 06.30,” jelasnya.

Senam masal poco-poco di Wates, Kulonprogo juga berlangsung semarak. Ribuan warga tumpah ruah di Alun-Alun Wates. Terdiri atas pelajar, pegawai negeri, hingga wisatawan. Empat instruktur senam memandu dari atas panggung. Musik menghentak dari 60 pengeras suara yang terpasang. Para peserta pun bergoyang seirama.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo Sumarsana mengatakan, senam poco-poco masal digelar sebagai tindak lanjut surat menteri pemuda dan olahraga RI untuk membentuk generasi Indonesia sehat. “Senam poco-poco budaya khas Indonesia. Pesertanya (di Kulonprogo, Red) ada 7.500 orang,” ujarnya. (ita/dwi/tom/yog/fn)