KENANG BAPAK PAKISTAN: Warga mengunjungi areal makam Ali Jinah, Bapak pendiri Negara Pakistan di kota Karachi, Pakistan. (Foto Bahari)
SUASANA kompleks makam Ali Jinah, bapak pendiri bangsa Pakistan, di pusat Kota Karachi Rabu (26/10/2011) pagi itu tampak sepi. Hanya beberapa pasangan muda mudi terlihat mojok di sudut-sudut taman.

Makin siang, pengujung tambah banyak. Beberapa rombongan pelajar membawa kembang tampak berjalan beriringan menuju kompleks makam.

‘’Kalau sore pengunjung kian banyak karena cuaca tidak panas,’’ kata sopir bajaj yang menemani penulis di kompleks makam tersebut.

Kompleks makam Ali Jinah menempati lahan cukup luas. Tak heran Pemerintah Karachi kerap menjadikan lokasi itu sebagai tempat upacara kenegaraan. Seperti perayaan hari kemerdekaan.

Lokasi makam berada di ketinggian dari bangunan sekitarnya dengan atap kubah atau mirip dome menjulang tinggi. Dari kejauhan pun tampak kubahnya. Kompleks makam dipercantik dengan aneka bunga terawat rapi.

Lima puluh meter menjelang pintu masuk makam, pengunjung harus melepas sandal dan sepatu. Agar kompleks makam tetap terjaga kebersihannya. Saat memasuki makam petugas menggeledah setiap pengunjung dengan metal detector.

Setelah dinyatakan aman pengujung bebas masuk, melihat, bahkan berfoto dengan lima tentara berseragam dengan senjata lengkap di setiap pojok makam.
Mereka berjaga secara bergantian dengan posisi siap. Meski banyak turis berfoto bersama mereka. Tapi, para tentara yang berusia rata-rata muda itu tidak boleh bergerak apalagi tersenyum saat difoto oleh pengunjung. Ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan saat berkunjung di makam Ali Jinah.

Makam Ali Jinah terbuat dari marmer putih. Ukurannya tergolong kecil dan sederhana. Kijing-nya yang berbentuk kotak persegi panjang dibiarkan polos alias tidak ada hiasan atau ukiran sebagaimana makam pembesar bangsa lainnya di dunia.

Ali Jinah yang juga seorang pengacara itu sangat dihormati bangsa Pakistan. Terbukti, banyak tempat, jalan, gedung perkantoran, dan tempat penting lainnya menggunakan nama Ali Jinah. Untuk memasuki kompleks makam dipungut bayaran murah. Per orang hanya 5 rupees atau setara Rp 1.000.
Untuk mengenang jasa besar Ali Jinah sebagai pendiri Pakistan, pemerintah setempat juga membangun museum di kompleks makam ini. Letaknya di belakang.

Di sini juga dipamerkan berbagai benda yang berkaitan atau pernah dipakai Ali Jinah semasa hidup. Mulai masa sekolah hingga jadi presiden Pakistan. Semua dipamerkan secara khusus.

Mulai mobil kesayanganya bermerek Pae Card warna putih atau Cadilac hitam buatan 1947 yang tampak masih gagah. Mobil koleksi pendiri bangsa Pakistan itu juga terawat rapi.

Peninggalan Quaed Al Azam, julukan Ali Jinah, yang lain adalah kursi tempat duduknya selama menjadi presiden. Tampak kursi kulit warna hijau itu sudah sobek kecil di sana sini.

Selain itu ada satu set kursi ruang tamu ikut dipamerkan. Di ruangan itu Ali Jinah banyak menerima tamu dari mancanegara. Foto-foto istri Ali Jinah dan kakak perempuannya yang paling disayang juga ada.

Kemudian seperangat stik golf serta aneka sepatu dan berbagai pakaian Ali Jinnah ketika masih hidup. Bahkan dasi, baju tidur, kopiah khas Pakistan yang basa dia pakai dulu ikut dipamerkan. ‘’Ini pahlawan sejati Pakistan. Tanpa beliau kami tidak ada ,’’ kata sopir bajaj tadi.

Ali Jinah saat mudanya adalah seorang pengacara andal. Karena itu baju pengacaranya juga ikut dipamerkan. Bahkan handuk Ali Jinah pun bisa disaksikan generasi muda Pakistan.

Belum lagi pernik-pernik aneka cendera mata dan koleksi pribadi Ali Jinnah. Termasuk koleksi pribadinya seperti pistol dan pedang. ‘’Kalau melihat miniatur Pakistan ya di sini saja. Museum dan kuburan Ali Jinah,’’ kata Alek, mahasiswa Indonesia yang tinggal di Karachi. (yog/bersambung)