JOGJA – Jumlah becak yang digerakkan motor (betor) kian banyak di Kota Jogja. Sementara jumlah becak kayuh jumlahnya menyusut. Data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja menyebutkan jumlah becak kayuh tinggal 3.325 buah.

Pada 2005 masih ada lebih dari 8.000 becak kayuh. Pada 2014 Dishub Kota Jogja mencatat 5.500 becak kayuh dan pada 2016 menjadi 5.048 becak kayuh.
Perhitungan Dishub Kota Jogja tersebut berdasarkan pada pengayuh becak yang memperbarui surat izin operasional kendaraan tidak bermotor (SIOKTB).

“Sekarang jumlah becak kayuh tinggal 60 persen dari empat tahun lalu,” ujar Kepala Seksi Penyelenggaraan Angkutan Dishub Kota Jogja M. Zandaru Budi Minggu (5/8).

Menurut Zandaru betor di Kota Jogja berasal dari luar DIJ. “Kemungkinan (becak kayuh) berkurang jumlahnya karena dijual pemiliknya,” katanya.
Dishub Kota Jogja juga mengeluarkan SIOKTB untuk andong. Sampai saat ini, jumlahnya mencapai 506 andong.

SIOKTB difungsikan layaknya surat tanda nomor kendaraan (STNK) kendaraan bermotor. setiap kendaraan tidak bermotor yang beroperasi di Kota Jogja wajib dilengkapi tanda nomor kendaraan tidak bermotor (TNKTB).

“Semacam pelat nomor pada kendaraan bermotor,” ujar Zandaru.

Ketua Paguyuban Becak Kayuh Jogja Jiyono mengatakan pengemudi becak kayuh yang tergabung dalam paguyubannya rutin mengurus dan memperbarui SIOKTB. Jiyono menilai penurunan jumlah becak kayuh karena banyak yang beralih menjadi betor.

Sebab dengan betor dianggap lebih mudah dan tidak membutuhkan tenaga mengayuh. “Kalau pakai mesin sepeda motor pasti lebih mudah dijalankan daripada nggenjot,” kata Jiyono.

Dia sepakat jika dikatakan pengemudi betor saat ini mayoritas berasal dari luar DIJ. Menurut dia untuk warga asli DIJ masih lebih banyak yang memilih becak kayuh.

Jiyono mengatakan saat ini juga makin banyak pegemudi betor yang kembali mempreteli mesin motornya untuk dijadikan becak kayuh. Alasannya karena gencarnya penertiban betor.

“Mungkin lebih baik jika pemerintah rutin melakukan operasi penertiban betor,” kata Jiyono. (pra/iwa/fn)