JOGJA – Penyandang disabiltas sering diabaikan keberadaannya. Termasuk penyediaan fasilitas penunjang keselamatan dan aksesbilitas bagi mereka.
Salah satu penyandang tunanetra asal Magelang Supriyati mengatakan trotoar masih banyak kekurangannya. Garis dan titik-titik yang berguna untuk membantu penanyandang tunanetra masih belum sempurna.

“Dulu saya pernah nabrak tiang gara-gara penunjuknya (guiding block) lurus terus menuju tiang,” ujar Supriyati.

Alih fungsi trotoar sebagai tempat parkir kendaraan juga dirasakan menganggu penyandang tunanetra. ‘’Teman saya pernah jatuh ke sungai karena tidak adanya pembatas jalan,’’ kata Supriyati.

Hal senada diungkapkan penyandang tunanetra Muhammad Furqon. Dia berharap adanya peningkatan fasilitas bagi tunanetra. “Biar kami bisa merasa aman,” ujarnya.

Penggiat komunitas yang membantu penyandang tunanetra Veronica Christamia Juniarmi berusaha membantu mereka. Banyak fasilitas bagi tunanetra masih kurang layak.

Pemerintah harus memerhatikan penyandang tunanetra. “Namun tidak cukup hanya mengharapkan pemerintah. Kita sebagai orang normal harus peduli dengan mereka,” ujar founder Komunitas Braille’iant Indonesia tersebut. (cr5/iwa/fn)