BANTUL – Industri kreatif di Jogjakarta bisa dikatakan tumbuh subur. Ada banyak anak muda yang akhirnya mengeluarkan produk kreatifnya sendiri. Namun, ternyata tak semua brand bisa bertahan. Kenapa?

“Kalau kamu mau membuat sebuah brand, pastikan dulu apa yang akan kamu sampaikan dari brand tersebut. Ada banyak sekali brand di Indonesia, tapi banyak juga yang masih bingung tentang apa yang akan disampaikan,” kata Farid Stevy Asta, vokalis FSTVLST sekaligus owner Libstud, dalam creative talkshow dengan tema Hiruk Pikuk Brand Lokal Kini dan Nanti di Jogja Expo Center, akhir pekan lalu.

Farid mengajak pegiat industri kreatif untuk melihat berbagai tantangan yang muncul di sekitar. Misalnya saja, dengan adanya pembajakan. Menurutnya, jika brand tertentu sampai produknya dibajak berarti itu jadi tolok ukur brand tersebut sudah bagus dan terkenal.

“Tapi di lain sisi juga menjadi reminder untuk pemiliknya untuk berinovasi. Hanya bisa melawan pembajakan dengan terus membuat sesuatu yang baru,” pesannya.

Selain Farid, dalam diskusi kreatif itu juga hadir seniman Mufti Priyanka yang berbagi tentang pengalaman mereka di industri tersebut. Menurut Mufti Priyanka yang akrab disapa Amenk, sebuah brand harus dimulai dengan konsep yang baik.

Build sebuah brand itu nggak cukup dengan waktu singkat. Nggak cukup juga hanya dengan modal duit besar lalu kamu bisa langsung terkenal. Tapi melalui serangkaian proses dan harus konsisten. Makanya pikirkan konsepnya dari hal yang paling dasar,” ujar owner Sleborz itu.

Menurut Amenk, para pemilik brand juga harus memperhatikan ekosistem usahanya. Berpikir terus untuk mencari solusi bagaimana brand itu bisa bertahan. Salah satu yang penting adalah dengan berpikir beda.

“Tawarkan something yang belum ada. Para pemilik brand harus punya pola pikir berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Membuat masyarakat akhirnya tertarik pada produk brand tersebut,” tambahnya. (ata/ila)