Menyalurkan hobi menjadi pundi-pundi uang. Inilah yang dilakukan Dian Fidianingrum, 35. Dari keahlian merajut sudah ditekuni sejak SD, dia mengambangkan bisnis yang kini terus berkembang.
Bahkan sejak SMP, Dian sudah sering merajut baju-baju Barbie rajutan. Selain suka merajut, dia juga menyukai boneka-boneka.

SUKARNI MEGAWATI/RADAR JOGJA

Beberapa tahun, Dian sempat vakum merajut. Setelah itu, ibu satu anak ini mulai merajut lagi ketika hamil. Dia mulai membuat sepatu, topi, dan sweeter untuk anaknya yang akan lahir. Tahun 2013, kemudian Dian terpikirkan untuk membuat sebuah inovasi usaha yang berbeda. “Kalau bikin rajutan tas dan bros sudah banyak yang bikin. Kalau tas tidak bermerk susah jual dengan harga tinggi,” jelasnya.

Akhirnya karena dia juga amat menyukai boneka dengan berbagai karakter yang lucu. Jadilah dia memutuskan untuk membuat boneka rajutan buatan sendiri. Kini, Dian dibantu delapan orang asisten. Lima untuk bagian merajut dan tiga bertugas mengisi dakron dan menutup sambungan rajut.”Saya sempat kesulitan mencari SDM. Karena tukang rajut banyak, tapi untuk buat boneka agak susah,’’ jelasnya.

Sulitnya mencari asisten itu karena memang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Selain rajutannya harus kencang, semua polanya juga harus sudah buat Sedari awal. Setiap baris ada polanya. “Banyak orang yang malas mengerjakan karena rajut boneka harus detail,” tegasnya.

Dalam sehari, Dian bersama asistennya bisa menghasilkan 5-10 biji gantungan kunci. Boneka-boneka mini bisa dihasilkan 2-3 boneka sehari. Untuk Teddy Bear yang berukuran sedang bisa dihasilkan dua boneka sehari. “Kalau harga tergantung tingkat kesulitan, ukuran dan bahannya,” jelasnya.

Boneka rajut paling murah untuk gantungan hp dan gantungan kunci dibanderol mulai Rp 5.000an. Untuk boneka mini Rp 50.000 – Rp 70.000. Boneka ukuran sedang hingga paling besar ukuran 60 centimeter bisa dijual dengan harga Rp 100.000 – Rp 1 Juta. Bahan yang digunakan juga bervariasi. Biasanya menggunakan bahan katun, wol, dan benang pulki.

Dian mengaku omzetnya dari tahun ke tahun meningkat karena karyawannya banyak. Peminatnya mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kendati begitu, dia masih merintis usaha online. Dikatakan untuk membagi waktu antara memproduksi dan mengurus toko online agak kesulitan. “Jadi sengaja ada orang yang diminta khusus mengurus online dua tahun ini,” tegasnya. (ega/din/mg1)