Ketika paspor disita Akhmad Zan, kepala imigrasi Gwadar di Provinsi Balochistan, Pakistan, penulis segera menghubungi redaksi Jawa Pos di Surabaya. Penulis menjelaskan kepada Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya agar tidak panik. Secara mental penulis siap menerima segala risiko yang bakal terjadi. Termasuk jika ditahan gara-gara masalah ini.

Leak di ujung telepon tampak panik luar biasa. ‘’Kok nggak sampeyan buang saja surat rekomendasinya, Mas,’’ kata Leak. Surat rekomendasi yang dimaksud dari duta besar RI untuk Myanmar yang ditujukan kepada Pemerintah Myanmar. Agar membantu penulis melintas di perbatasan. Pada surat tersebut tertera profesi penulis sebagai reporter. Hal itulah yang membuat Zan marah-marah.

‘’Saya nggak kepikiran, Mas. Padahal surat rekomendasi saya simpan di tas paling bawah. Tapi ketemu juga,’’ jawab penulis. ‘’Oh.. alah, Mas. Terus yok apa iki?’’ tanya Leak.

‘’Tenang mas. Nggak papa. Saya hanya melapor supaya sampeyan tahu kondisi di sini (Gwadar). Sampeyan nggak usah panik, saya siap lahir batin, apa pun yang terjadi besok tak kabari lagi,’’ kata penulis menenangkan Leak.

Saat penulis sibuk menelepon, Ahmad Faruki, teman penulis asal Indonesia yang kuliah di Islamabad, memberitahukan kejadian yang kami alami kepada teman dekatnya, tapi tidak untuk disebarluaskan. Sedangkan Alek (Abdul Kholik), mahasiswa lain yang juga menemani penulis, memberitahukan kasus ini pada rekannya di pondok pesantren dan seorang rekannya di KJRI Karachi.
Malam itu kami sibuk berbenah. Memasukan barang ke tas yang sudah diacak-acak Zan dan anak buahnya.

Jumat (28/10/2011) pagi sekitar pukul 09.30 Akhmad Zan bersama anak buahnya yang menginterogasi kami malam sebelumnya datang sambil membawa segepok dokumen penulis yang mereka sita.

Kali ini muka Zan lebih cerah. Sambil mengucek-ucek matanya yang masih menahan kantuk, Zan mengeluarkan paspor penulis dan kartu pelajar milik Faruki. Meski senang, kami tidak boleh gembira dulu. Sebab, itu hanya pancingan.

Benar saja, Zan melakukan interogasi lagi. Pertanyaannya juga diulang-ulang. Seputar kenapa penulis tidak berterus terang sebagai wartawan, apa saja yang sudah ditulis selama perjalanan, dan apa rencana setelah dari Gwadar.

Karena tahu penulis reporter, Zan minta nama pemimpin redaksi Jawa Pos diejakan. Untuk dicocokkan dengan surat yang ditujukan kepada para duta besar di mana ada nama Leak Kustiya sebagai pemimpin redaksi. Penulis pun mengejanya, Zan mencocokkan. Setelah tepat Zan tersenyum.

Selanjutnya, kami bertiga diminta segera pergi dari Gwadar. Sebab, imigrasi tidak akan menerbitkan izin keluar Pakistan dari Pelabuhan Gwadar. Dan perahu nelayan tidak berani mengangkut orang asing keluar dari Gwadar tanpa dokumen lengkap.’’Pelabuhan ini hanya untuk angkutan barang bukan orang,’’ kata Zan.

Belum lagi banyak masalah di tengah laut. Banyak perompakan, patroli banyak negara. Oman, Pakistan maupun Iran. ‘’Anda juga tidak tahu apa yang terjadi ditengah laut. Siapa yang tahu nasib Anda. Kalau dirampok, dibunuh,’’ ingat Zan. ‘’Kalau itu yang terjadi kami (Pemerintah Pakistan) ikut repot,’’ jelasnya.

‘’Anda ini ke Gwarda nekat,’’ kata Zan.

Dia menceritakan jarak Karachi-Gwarda beratus-ratus kilometer. Sepi dan tidak ada rumah penduduk. “Seandainya Anda dirampok atau dibunuh di tengah jalan siapa yang susah,’’ ujarnya.

‘’Anda punya istri, punya anak?’’ tanyanya. Penulis jawab iya. Punya istri dan tiga anak. ‘’Balochistan ini berbeda dengan daerah Pakistan lainnya. Ini daerah gawat, apalagi untuk orang asing seperti Anda. Anda dibunuh dibuang ke tengah jalan tidak ada yang tahu. Kami pemerintah jadi repot nanti,’’ ingatnya.

Meski demikian, penulis minta tolong kepada Zan agar memberi cap keluar imigrasi Pakistan hingga bisa naik perahu atau menyewa untuk mengantar ke Oman.

‘’Tidak bisa. Ini terakhir kali saya ngomong. Perahu pun tidak ada yang mau disewa orang asing. Makanya, Anda harus keluar dari Gwarda secepatnya,’’ pinta Zan. Interogasi dua jam itu berakhir sekitar pukul 11.30.

Untuk memastikannya, Zan minta penulis menelepon Leak Kustiya. Zan minta penulis memberitahukan bahwa rencana ke Karachi. Meski tidak bisa bahasa Indonesia, Zan tampak paham. ‘’Waktunya lima menit untuk persiapan keluar hotel,’’ pinta Zan yang kali ini sedikit ramah.

Bahkan melihat kuku penulis yang agak panjang Zan bertanya dan menyarankan untuk dipotong. ‘’Kalau kuku dipotong lebih sehat,’’ sarannya.
Kami pun cepat-cepat membereskan perlengkapan untuk bersiap meninggalkan hotel. Dikawal Zan dan tiga anak buahnya menumpang mobil beriringan keluar hotel menuju batas kota Gwarda. Seorang petugas imigrasi ditempatkan di mobil yang penulis tumpangi. Sedangkan Sahid, sopir yang mengantar penulis sejak dari Karachi, pindah di mobil Zan. Mungkin Sahid mendapat arahan dan indoktrinasi dari Zan.

Sekitar 30 kilometer batas kota Gwarda menuju Karachi, mobil Zan berhenti. Dia turun dari mobil lalu mendatangi mobil yang penulis tumpangi. Kami tetap dilarang turun dari mobil. Sebagai gantinya Zan yang menghampiri mobil kami.
Dia sekali lagi mengingatkan penulis agar tetap berkomitmen ke Karachi. Lalu melanjutkan perjalanan haji ke Arab Saudi lewat Oman. ‘’Yang penting hajinya tidak batal,’’ tuturnya seraya menyalami penulis. Zan juga minta didoakan sesampainya di Tanah Suci agar bisa segera dipanggil juga ke Makkah.

‘’Berdoa untuk saya di Makkah,’’ pintanya sambil menengadahkan tangan ke atas. Zan kali ini juga ramah memberi tahu nama dan jabatan. Tapi, dia tetap merahasiakan nomor teleponnya kepada penulis.

Siang itu, kami harus balik ke Karachi yang berjarak sekitar 675 kilometer dari Gwarda. Mobil dilarikan Abdul Somad, saudara Sahid, bak kesetanan. Sangat kencang. Rata-rata 130, 140, bahkan 150 kilometer per jam.

Sahid yang semula ceria dan banyak ngomong terlihat murung dan pendiam. Dia tampak ketakutan. Sejak dua hari bersama Sahid, penulis amati sopir ini banyak ngomong. Tapi, nyalinya kecil kalau menghadapi masalah. Bahkan sering ikut campur yang bukan urusannya. Namun, begitu sampai Karachi, tawanya mendadak lebar. ‘’Sudah sampai Karachi, bukan Gwardar,’’ katanya semringah. Bahkan dia dengan bangga bercerita kepada teman-temannya kalau dari Gwardar.

Sebaliknya, Abdul Somad tetap fokus dan terlihat tegar. Meski di Gwarda maupun Karachi dia tetap tenang dan tidak banyak ngomong. Orangnya juga baik. Penulis lebih respek pada Abdul Somad. Makanya, penulis memberikan fee lebih besar kepada Abdul Somad dibanding Sahid. (yog/bersambung)