GUNUNGKIDUL – Gelombang tinggi laut selatan terus mengancam wilayah Gunungkidul. Kabupaten berslogan Handayani bahkan disebut-sebut sebagai wilayah DIJ paling rawan bencana tsunami.

Ironisnya, tak satu pun alat deteksi dini early warning system (EWS) tsunami di pesisir selatan Gunungkidul berfungsi. Bahkan, dari tujuh unit EWS tiga di antaranya hilang.

GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

Masing-masing dipasang di Pantai Siung, Drini, dan Wediombo. Sedangkan empat EWS lain rusak berat, terpasang di Pantai Kukup, Ngenehan, Sepanjang, dan Sundak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki menyebut, salah satu pemicu rusaknya EWS adalah terjangan gelombang tinggi pada 24-25 Juli lalu.

Satu-satunya jalan untuk deteksi dini tsunami dengan pengadaan EWS baru. Kendati demikian, pengadaan EWS diperkirakan bakal memakan waktu lama. Biaya pengadaan yang mahal menjadi alasannya. Edy menyebut, pengadaan 7 unit EWS mencapai sekitar Rp 1 miliar. Karena itu BPBD Gunungkidul mengajukan usulan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Supaya pengadaan EWS menggunakan dana APBN.

“Tidak mungkin dengan APBD. Surat pengajuan sudah kami kirim ke BNPB,” ujarnya Jumat (3/8).

Selain minta penggantian tujuh EWS, BPBD juga mengusulkan penambahan tiga unit. Semakin ramainya kunjungan wisatawan pantai menjadi pertimbangan utama. Semakin banyak EWS dipasang, ucap Edy, deteksi dini terhadap gelombang tinggi akan memudahkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

“Kerusakan EWS ini bukan kali pertama terjadi. Dulu kami juga minta anggaran perbaikan EWS ke pusat,” ungkapnya.

Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul Marjono mengatakan, keberadaan EWS sangat krusial. Kerusakan EWS cukup mengganggu kinerja tim SAR saat akan menyerukan peringatan dini kepada seluruh pengunjung pantai di Gunungkidul ketika terjadi gelombang tinggi. “Jadi sudah terintegrasi. Kami umumkan di Baron, akan terdengar oleh pengunjung pantai lain,” katanya.

Tanpa EWS, SAR Gunungkidul berinisiatif memasang alat pengeras suara di atas pohon. Selain itu, memperbanyak papan peringatan bahaya gelombang tinggi. “Semoga masalah EWS segera direspons oleh pihak yang berwenang. EWS penting sekali,” ucapnya. (gun/mg1)