JOGJA – Masalah penggajian awak Transjogja di bawah manajemen PT Jogja Tugu Trans (JTT) belum ada titik terang. Persoalan itu disebut-sebut murni urusan internal PT JTT.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Sigit Sapto Raharjo mengatakan, dalam operasional Transjogja Dishub DIJ hanya bekerja sama dengan PT Anindya Mitra Internasional (AMI) selaku badan usaha milik daerah (BUMD) Pemprov DIJ. Selanjutnya, PT AMI-lah yang menggandeng PT JTT.
Menurut Sigit, besaran gaji karyawan Transjogja ditetapkan sesuai biaya operasional kendaraan (BOK).

“BOK sudah menunjukkan bahwa sopir gajinya sekian, ini sekian, secara detail saya tidak hafal,” katanya saat dihubungi Radar Jogja, Jumat (3/8).

Merujuk BOK, Sigit memastikan semua upah karyawan Transjogja di atas upah minimum kabupaten/kota (UMK). Namun, tidak demikian dengan office boy (OB) atau petugas cleaning service. Dua profesi ini tak harus digaji lebih dari UMK. Alasannya, mereka bekerja tak lebih dari 8 jam per hari. Selain itu status mereka hanya pegawai kontrak. “Kan kalau cuma 2-3 jam (kerja, Red), masak kontrak kerjanya setiap berapa (bulan atau tahun, Red),” ujarnya.

Sigit meminta manajemen PT JTT membayar gaji seluruh karyawan sesuai BOK yang telah ditetapkan. Jika masih ada karyawan digaji kurang dari standar BOK, Sigit minta agar ditambah. “Nanti kami yang menanyai PT AMI. Kok ada kasus seperti ini bagaimana kerja samamu dengan dia (PT JTT). Begitu,” tegas Sigit. Jika besaran BOK memang kurang, Sigit akan mengusulkan untuk ditambah.

“Kami cek dulu kelayakan dan kebutuhannya,” tambahnya.

Sigit tak menampik kemungkinan adanya perbedaan gaji antarkaryawan Transjogja. Terutama antara awak Transjogja PT JTT dengan kru lain yang berada di bawah bendera PT AMI. Dia menduga, hal tersebut disebabkan perbedaan lama jam kerja. Karena setiap jam kerja ada perhitungan upah tersendiri. “Kalau disamakan jelas enggak mungkin. Misalnya, jalur ini harus (beroperasi, Red) sampai pukul 18.00. Sedangkan jalur lain mungkin harus sampai pukul 21.00,” jelas Sigit.

Sementara itu, Direktur PT AMI Dyah Puspitasari berdalih masalah penggajian awak Transjogja di bawah bendera PT JTT merupakan persoalan internal perusahaan tersebut. Menurut Dyah, PT AMI hanya berperan sebagai perantara antara PT JTT dan Pemprov DIJ. “Secara internal JTT seperti apa saya belum mengecek,” ujarnya.

Sebagai mitra Dinas Perhubungan DIJ, lanjut Dyah, PT AMI memang menerima uang BOK. Namun, uang ini kemudian diserahkan kepada PT JTT untuk gaji karyawan.

Dyah membenarkan pernyataan Sigit terkait gambaran umum sistem penggajian karyawan Transjogja berdasarkan BOK. Namun, dia mengaku tidak tahu persis angka pastinya. Menurut Dyah, jumlah nominal yang diterima karyawan tergantung manajemen perusahaan masing-masing.

“Pengaturan (gaji, Red) itu internal mereka (PT JTT). Tidak ada kalitannya dengan kami secara langsung. Kalau uangnya melalui PT AMI memang iya,” ungkapnya.

Mengenai upaya mencari solusi masalah internal PT JTT, Dyah menunggu agenda pertemuan dengan anggota DPRD DIJ dan manajemen PT JTT. “Biarlah diselesaikan oleh manajemen PT JTT. Kami sebagai penengah saja,” tandasnya.
Terpisah, Ketua Komisi C DPRD DIJ Zuhrif Hudaya berjanji melakukan kajian masalah gaji karyawan PT JTT sebagai operator Transjogja. Komisi C mengagendakan memanggil Dishub DIJ dan PT AMI. “Nanti kami lihat dulu alokasi anggaran dan proyeksi dari dishub,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Ketua Serikat Pekerja Kru PT JTT Totok Yulianto membeberkan jika awak Transjogja tak pernah naik gaji selama empat tahun. Pramudi (sopir), misalnya. Hanya digaji Rp 3.007.000 per bulan. Beda dengan pramudi Transjogja di bawah manajemen PT AMI yang digaji Rp 3,5 juta.

Menurut Totok, gaji pramudi Transjogja PT JTT seharusnya mengalami kenaikan hingga Rp 938 ribu per bulan. Itu jika dihitung berdasarkan rumus UMK yang tiap tahun selalu mengalami kenaikan.

Direktur PT JTT Agus Andrianto mengakui adanya masalah keuangan di internal perusahaan. Masalah itu diperparah dengan tidak optimalnya operasional armada yang tersedia.

Karena itu Agus meminta seluruh karyawannya bersabar dan memahami kondisi PT JTT saat ini. (tif/yog/mg1)