DENGAN cermat Kepala Imigrasi Gwadar Akhmad Zan meneliti visa Pakistan penulis Kamis (27/10/2011) malam. Zan terus membaca berulang-ulang. Tapi, karena sudah lengkap dan legal Zan tidak menemukan celah mencari kekeliruan soal paspor dan visa.

Laptop penulis berisi file berita selama melakukan perjalanan haji nekat lewat jalur darat, dan kamera juga diperiksa. Zan juga bertanya ejaan nama penulis sambil menyocokannya dengan data paspor. Berkali-kali penulis eja tapi terus disuruh mengulang. Akhirnya, penulis sedikit emosi. Zan terkejut.

Tapi, Alek (Abdul Kholik), teman penulis, berusaha menenangkan. ‘’Jangan emosi, kita nanti yang rugi,’’ ujar mahasiswa Indonesia yang kuliah di Islamabad, Pakistan.

Zan lantas menanyakan siapa saja orang-orang yang ada di file foto, termasuk lokasinya. Penulis jelaskan siapa pun. Di Bangkok, Lhasa, India, dan seterusnya, sesuai gambar foto yang dibuka. Bahkan foto dokumen KTP penulis yang tersimpan dalam file foto untuk mengurus visa haji di Surabaya juga ditanya. Penulis diminta mengeja nama sendiri yang dicocokan dengan nama di gambar tadi. Zan pun manggut-manggut.

Yang penulis khawatirkan jika Zan sampai menemukan kumpulan berita yang penulis simpan dalam laptop.

Terus terang penulis agak cemas karena selama ini tidak pernah mengaku sebagai wartawan. Sebab, itu akan mempersulit gerak penulis masuk satu negara ke negara lainnya. Sebagai gantinya penulis hanya mengaku turis atau art worker. Beruntung Zan tidak tahu bahwa dalam laptop tersimpan file berita selama perjalanan penulis sejauh ini.

Zan juga mercerca penulis mengapa tidak berhaji lewat jalur udara. Kalau lewat darat, selain berbahaya juga biayanya mahal. Penulis bilang ini untuk memenuhi nazar. Tapi, Zan sepertinya tidak percaya alasan penulis. Namun dia tidak punya alasan lain meski tetap menaruh curiga dengan penjelasan penulis.
Semua kartu indentitas dan disket yang dibawa Akhmad Faruki, rekan penulis lain, yang sebenarnya milik rekannya sesama mahasiswa di Islamabad tak luput dari pemeriksaan.

Ternyata dalam disket itu ada gambar atau bangunan yang difoto berulang-ulang di Abotabad, tempat Pemimin Al-Qaedah Osama bin Laden tewas. Itu sangat mencurigakan Zan.

Apalagi, dalam dikset itu juga ada gambar atau logo salah sati stasiun televisi swasta Jakarta yang sedang melakukan peliputan ditemani mahasiswa pemilik disket tadi. Jadilah Zan makin curiga.

Saking seriusnya, Zan lantas minta gambar tadi untuk di-zoom atau dibesarkan. Dia tampak serius meneliti gambar itu. Cukup lama. Dia juga bertanya pada Faruki soal gambar itu.

Juga foto-foto Faruki dalam berbagai kegiatan akademik mahasiswa yang ikut tersimpan dalam disket. Baik di Islamabad maupun Lahore. Faruki pun menjelaskan apa adanya soal foto yang sekiranya kenal atau temannya. Zan tampak memahami.

Zan juga meneliti kartu pelajar, foto-foto dan semua yang ada dalam dompet kami bertiga. Semua diteliti satu per satu. Tidak ada satu pun barang yang luput dari pemeriksaan.

Selama melakukan pemeriksaan kami dilarang berbicara bahasa Indonesia satu sama lain. Karena Zan tidak paham. Dia terus curiga ketika kami saling bicara. ‘’Stop,’’ kata Zan mengisyaratkan tanganya di mulut. Pertanda kami bertiga dilarang bicara satu sama lain.

Bahkan saat telepon berdering di tengah interogasi atau menerima SMS pun Zan curiga. Dia melihat dulu siapa peneleponnya. Kalau ada nomor yang mencurigakan Zan yang menjawab lebih dulu, baru kemudian HP diberikan kepada pemiliknya.

Puncaknya, saat anak buah Zan menemukan salah satu rekomendasi surat duta besar RI untuk Myanmar yang ditujukan kepada Pemerintah Myanmar, agar membantu penulis melintas di perbatasan. Surat yang tersimpan itu menyebutkan kalau penulis adalah reporter. ‘’Kenapa harus berbohong?’’ tanya Zan sambil menujukkan surat itu kalau penulis ini repoter. ‘’You profesional?’’ tanya Zan. Penulis pun dengan rela minta maaf.

Penulis ungkapkan alasan tidak menyantumkan status reporter hanya untuk memudahkan dan melancarkan perjalanan haji darat serta melempangkan mencari visa di luar Indonesia.

Kalau berstatus reporter pengajuan visa bisa sulit karena harus memenuhi beberapa persyaratan dan harus seizin berbagai instansi di negara yang bersangkutan.

Itu memakan waktu cukup lama dan prosesnya berbelit. Untuk memudahkan pencarian visa biasanya status turis lebih mudah.
Selain itu, liputan terbatas masalah religi yang berkaitan dengan haji. Misalnya, soal kemegahan masjid, kehidupan masyarakat Islam, budaya Islam, dan hal lain yang berkaitan dengan Islam.
Tapi, Zan tetap dongkol karena merasa dibohongi. Sebab penulis sejak awal tidak berterus terang mengaku sebagai wartawan. ‘’Kok gampang sekali minta maaf,’’ ucap Zan.

Penulis tidak tahu harus berbuat apa selain minta maaf karena terpaksa berbohong untuk kelancaran perjalanan haji lewat jalur darat. Tapi, belakangan sebelum mengghentikan interogasi yang melelahkan sampai dini hari itu, Zan tampaknya memahami penjelasan penulis meski sedikit kecewa.

Malam itu, Zan menahan paspor penulis dan kartu mahasiswa rekan penulis. ‘’Kalian tidak boleh keluar hotel. Besok saya datang lagi ke sini,’’ kata Zan begitu saja meninggalkan kamar hotel yang baru saja diacak-acak.

Sepeningal Zan kami bertiga sibuk. Penulis sendiri melaporlan kejadian itu langsung kepada Pemred Jawa Pos Leak Kustiya. Sekedar jaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebab, apa yang terjadi esok kami tidak tahu. Ditahan, diinterogasi ulang, atau malah dideporatsi dari Pakistan. Kami semua tidak tahu. (yog/bersambung)