BANTUL – Masa depan dunia pariwisata Kabupaten Bantul cerah. Itu terlihat dari banyaknya investor yang melirik. Hingga sekarang sedikitnya ada sepuluh investor yang ingin menanamkan sahamnya di pesisir pantai selatan.

Penyataan itu disampaikan Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Bantul Isa Budi Hartomo saat paparan laporan terakhir RTBL (rencana tata bangunan dan lingkungan) kawasan berorientasi transit (TOD) Sanden. Menurut Isa, pemkab membuka lebar pintu investasi. Terutama, di kawasan Pantai Samas. Salah satu pertimbangannya, kawasan ini bakal disulap sebagai kawasan berorientasi transit. Menyongong pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo.

”Sekaligus menunjang Parangtritis,” jelas Isa.

Pertimbangan lain adalah lahan yang dipersiapkan sebagai TOD cukup luas. Mencapai 64,5 hektare. Isa menyebut di antara peruntukkan lahan itu didesain sebagai kawasan jasa dan perdagangan. Dengan begitu, kawasan ini dikonsep untuk perhotelan, homestay, dan pertokoan.

”Lokasi kawasan sekitar JJLS (jalan jalur lintas selatan),” ucapnya.

Bagaimana dengan aliran Sungai Winongo yang bermuara di Pantai Samas? Bekas sekretaris Disperindagkop Bantul ini membocorkan bahwa sekitar sungai ini bakal disulap sebagai taman. Temanya river front park. Konsep pengembangan taman ini adalah dengan memaksimalkan fungsi garis sempadan sungai sebagai ruang terbuka. Kendati begitu, penataan sekitar Pantai Samas ini tetap memperhatikan keberadaan area pertanian. Ya, ada satu titik yang didesain sebagai kawasan pertanian atau perkebunan.

”Kawasan pertanian dapat dioptimalkan dalam sektor terkait pariwisata,” katanya.

Karena menyongsong NYIA, kata Isa, ada space di kawasan ini yang dipersiapkan untuk pengembangan transportasi kereta api.

”Koridor jalan di dalam kawasan didesain menarik. Dengan memperkuat karakter kawasan,” lanjutnya.

Terkait realisasi pembangunan, Isa menargetkan tahun depan dapat dimulai. Toh, pemkab telah mempersiapkan regulasi serta perangkat yang mempermudah investasi. Seperti online single submission (OSS). Cukup dengan beberapa klik, investor dalam hitungan hari dapat menunggu berbagai perizinan investasi.

”Tapi berkas-berkas persyaratan harus lengkap dulu,” tuturnya.
Rahmat Darmawan, seorang konsultan dan penjamin dana pihak ketiga mengapresiasi keberanian Pemkab Bantul. Dia berpendapat rencana pembangunan harus sinergi dan sinkron dengan pembangunan NYIA. Di sisi lain, pembangunan konvensional tidak akan mampu bersaing.

”Dan Jogjakarta sangat fisibel untuk pariwisata,” ucapnya.

Di tempat yang sama, GBPH Hadiwonoto juga memberikan apresiasi serupa. Menurutnya, Kabupaten Bantul lebih berkarakter sekaligus memiliki ciri khas dibanding daerah lain. Kendati begitu, Gusti Hadi, sapaannya mengingatkan, rencana pembangunan harus memerhatikan aspek lainnya. Seperti desain arsitektur yang tahan gempa.

”Juga jangan terburu-buru,” pesannya.

Gusti Hadi juga meminta pemkab menyosialisasikannya kepada masyarakat. Agar pembangunan TOD benar-benar mendapat dukungan masyarakat. Toh, pembangunan kawasan ini bakal membuka peluang kerja.

”Bantul akan jadi beranda DIJ,” tambahnya. (ega/zam/mg1)