TANGANNYA segera menjangkau botol penyemprot tanaman yang tergeletak di ujung kebun. Perlahan diisinya dengan air hingga hampir penuh. Tangan yang sedari tadi kering itu lantas basah terkena cipratan air.

Lantas dia berpindah tempat menuju ke salah satu tanaman anggrek. Dengan hati-hati dia mulai menyiram satu per satu tanaman. “Tapi jika disiram setiap hari malah tidak baik untuk tanaman anggrek,” kata Binti Tsulsiyah.

Perempuan 19 tahun itu mencintai anggrek sejak masuk bangku kuliah. Saat ini, perempuan yang akrab disapa Binti itu duduk di bangku kuliah Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Biologi.

Binti yang asli dari Kulonprogo itu mengaku awalnya tidak terlalu tertarik pada anggrek. Lantas kehadiran Biofest menjadi titik balik. Dari acara itu, Binti memiliki pandangan berbeda terhadap bunga yang salah satu spesiesnya dijuluki sebagai Puspa Pesona itu.

“Semakin tertarik saat masuk Biology Orchid Study Club. Saya mulai belajar dan mengenal lebih dalam tentang bunga anggrek,” kata Binti sambil sesekali menyiram tanamannya.

Sambil berkeliling mengitari kebun Titi Orchid di daerah Pakem yang juga dijadikan sebagai tempat pameran Anggrek Vanda Tri Colour itu, Binti menjelaskan, jika setiap jenis anggrek memiliki karakter berbeda.

“Setiap anggrek memiliki labellum yang berbeda,” kata Binti sambil menunjuk salah satu anggrek.

Anggrek yang dia tunjukkan adalah anggrek bulan. Bunga itu merupakan spesies amggrek yang paling digemari Binti.

Pandangan matanya tidak lepas dari bunga yang memiliki kelopak berwarna merah. Dijelaskan Binti, labellum merupakan bagian dari anggrek yang menyerupai lidah. Dari labellum muncul warna yang beraneka ragam.

Selang beberapa saat, dia lantas mengutarakan apa yang ada di benaknya. Dia ingin mengembangkan anggrek di Kulonprogo. Binti menceritakan, dia bersama teman-temannya telah banyak melakukan ekspedisi. Hasilnya, banyak jenis anggrek yang ditemukan.

Tak kurang dari tiga jenis telah dia ketahui. Masing-masing Eria Retusa, Acriopsis Lilifolia, dan Dendrobium Crumenatum. “Sedangkan yang khas Kulonprogo Dendrobium Capra dan Coelogye Speciosa,” kata Binti sambil mengantarkan Radar Jogja kembali ke arah pintu masuk.

Binti juga menyadari butuh waktu dan banyak belajar lagi untuk berusaha mengembangkan tanaman anggrek ini. Tapi, jika melihat dari cahaya matanya semangat untuk melestarikan anggrek sangat besar. (ila/mg1)