SLEMAN – Sejarawan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta Julianto Ibrahim memandang konflik suporter bola sebagai fenomena sosial. Perseteruran antarsuporter ibarat api dalam sekam. Saat hari normal semua berjalan wajar dan harmonis. Namun, kondisi itu akan berbanding terbalik 180 derajat saat mengenakan seragam tim sepak bola. Kawan bisa menjadi lawan saat bertemu di jalan.

Julianto Ibrahim. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Sejarah perseteruan antarsuporter lahir atas tingginya ego masing-masing. Karena itu segala upaya untuk menyatukan mereka bukan hal mudah. Terutama bagi kalangan grassroot atau tingkat bawah.
“Sangat kompleks. Upaya mendamaikan harus tuntas hingga level grassroot-nya,” katanya, Kamis (2/8).

Dalam ilmu baku, fenomena sosial ini terangkum dalam teori kerusuhan massa N.J. Smelser tentang sosiologi sosial. Perseteruan terjadi akibat adanya desakan dari dalam diri sendiri maupun lingkungan. Terlebih titik kerusuhan terjadi pada usia remaja hingga dewasa.

Julianto memandang dalam fase tersebut ada upaya pencarian jati diri. Di satu sisi fase ini bisa menyimpang jika ada pengaruh negatif yang cukup kuat. Termasuk di munculnya fanatisme terhadap kelompok tertentu. “Jadi pribadi atau kepribadian orang akan hilang. Tercerabut oleh psikologi massa saat bergabung atau berkumpul dengan kelompok atau kerumunannya,” jelas Julianto.

Imbasnya pada masa tertentu bukan sosok individu asli yang muncul. Yang ada justru upaya individu untuk mengikuti suara mayoritas.
Setiap individu bisa jadi sangat sadar akan tindakannya. Hanya, pola pikirnya tersingkir demi mendapat pengakuan dari kelompoknya.

Fenomena sosial ini, menurut Julianto, sudah terjadi sejak zaman perjuangan. Ketika itu setiap pemuda memiliki kecintaan tinggi pada laskar perjuangan. Bedanya, pada masa perjuangan para pemuda bersatu untuk mengalahkan penjajah. “Kelompok itu jadi bagian identitas diri seseorang. Menjadi ajang berkumpul dan saling melindungi antarindividu setiap anggota,” paparnya. “Dalam kasus kerusuhan antar supporter, yang muncul bukan pribadi individu tapi psikologi massa,” sambung Julianto.

Salah satu poin teori Smelser menyebutkan adanya prasangka kebencian yang meluas terhadap sasaran tertentu. Sasaran kebencian ini berkaitan dengan faktor pencetus. Berupa peristiwa tertentu yang mengawali atau memicu suatu kerusuhan.

Tahapan selanjutnya adalah mobilisasi massa. Fase ini merupakan akumulasi yang memungkinkan pecahnya kekerasan massa. Sasaran mereka adalah pemicu kerusuhan hingga objek lain sebagai sarana pelampiasan. Bahkan objek tersebut bisa jadi tidak ada hubungannya dengan pihak lawan.

Julianto mengatakan, ada dua sudut pandang pada masalah tersebut. Kelompok jadi ajang mencari jati diri atau melindungi tiap-tiap individu. Sementara individu juga harus berperan dalam kelompoknya. Yang terjadi kemudian adalah kerusuhan atas nama solidaritas. “Ini jelas salah,” tegasnya.

Kapolda DIJ Brigjen Polisi Ahmad Dofiri mengakui adanya riak dalam dunia suporter sepak bola di Jogjakarta. Fenomena ini sudah dia dalami sejak menjabat Kapolresta Jogja beberapa tahun lalu. Beragam solusi ditawarkan, namun belum juga membuahkan hasil.

Terhitung ada lima kali pertemuan yang diinisiasi Polda DIJ. Seluruhnya fokus pada upaya ikrar damai antar supporter sepak bola. Namun, upaya ini tidak pernah berjalan mulus dalam praktiknya.

“Pada prinsipnya kami selalu mendukung dunia sepak bola,” katanya.
Dofiri berharap, setiap kelompok suporter mempertegas peran koordinator wilayah dan koordinator lapangan guna mencegah konflik setiap pertandingan sepak bola. (dwi/yog/mg1)