JOGJA – RM Jafferson Lanang yang melakukan pemagaran seng di tanah di RT 06/RW 08 Penumping, Gowongan, Jetis mengaku langkah yang diambilnya legal. Sebab, Lanang sudah mendapat surat kuasa langsung dari Oco Darmowasito, selaku pemilik sertifikat tanah tersebut.

RM.Jefferson Lanang Hadiwijoyo menujukkan bukti surat kuasa dan buku tanah dari Badan Pertahanan Nasional. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

”Yang kami lakukan hanya pengamanan aset dengan memasang pagar seng,” ujar Lanang ketika ditemui di lokasi lahan di RT 06/RW 08 Penumping, Kamis (2/8).

Yang dilakukannya, lanjut Lanang, bukan merupakan klaim pemilikan lahan seluas 3.200 meter persegi tersebut. Lahan tersebut juga saat ini sedang tidak dalam sengketa.

”Tidak ada plang dari Pengadilan yang menunjukkan tanah itu sedang sengketa,” tambahnya sambil menunjukkan bukti surat kuasa serta buku tanah dari Badan Pertanahan Nasional.

Menurut Lanang, sebenarnya kepada warga sudah dilakukan sosialisasi dan saat ini proses pengesengan sudah mencapai 95 persen. Hanya, sekarang tinggal tujuh orang warga Penumping, yang juga memanfaatkan sebagian lahan untuk parkir mobil mereka, yang menolak.

Dari 12 pemilik mobil di sana, lima di antaranya sudah mau memindahkan mobil dan menerima kompensasi. Besaran kompensasi sebesar Rp 1 juta tiap mobil dan biaya pembongkaran bedeng Rp 3 juta.

Lanang meminta penyerobot tanah tersebut segera pergi. Jika tidak pemilik tanah tidak segan untuk memperkarakan kembali soal penyerobotan tanah tersebut. ”Tahun lalu sudah kami laporkan tujuh orang, terkait Pasal 167,” ujarnya.

Sementara, terkait adanya klaim pihak-pihak yang mengaku ahli waris yang memperkarakan tanah tersebut, Lanang menjamin jika itu hanya klaim sepihak. Lanang menjelaskan proses pembelian tanah tersebut oleh Oco jelas di mana tanah tersebut dibeli dari Bank Mitra Niaga.

Pihak bank menerima tanah tersebut dari pemilik sebelumnya Theodorus Andri Rukminto yang terbelit masalah keuangan dengan pihak bank. Sebelumnya Andri ternyata juga belum merampungkan persoalan dengan warga. Tapi, kesalahan itu sudah dijembatani dengan cara Oco memberikan akses jalan untuk warga selebar 1,5 meter sepanjang lebih dari 100 meter.

”Kalau dihitung secara nominal berapa kerugian Oco untuk memfasilitasi jalan bagi warga itu,” katanya.

Lanang juga mengaku saat melakukan pendekatan pada warga Penumping tidak pernah mengatasnamakan kerabat Keraton Jogja. Menurut dia, yang dilakukannya selama ini door to door langsung ke warga terdampak, termasuk ketua RW di sana. ”Yang saya lakukan sebagai yang diberi kuasa Oco dilakukan pendekatan secara arif,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah kuasa hukum Sutejo, pihak yang mengklaim sebagai ahli waris tanah di Penumping, Richard Riwoe mengatakan, saat ini masih ada proses gugatan di Pengadilan Agama.

Karena itu, dirinya menilai status quo pada tanah tersebut dan tidak boleh ada aktivitas pembangunan di sana. ”Lanang itu juga tidak memiliki kapasitas untuk bicara soal tanah di Penumping,” tegasnya. (pra/ila/mg1)