Upaya untuk mencetak lulusan yang mempunyai visi misi keislaman, Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta menyiapkan mahasiswanya melalui pembinaan keagamaan selama tiga tahun. Seluruh mahasiswa baru harus menempuh beberapa tahapan ilmu dan tes seperti baca tulis Alquran, hafalan, praktik salat sunah, dan lain-lain yang merupakan program dari Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII.
“Kalau di kampus biasa kan hanya menjalankan Tri Dharma, di UII yang merupakan universitas Islam mempunyai program atau kurikulum khusus keagamaan ini yang menjadi dharma keempat yang wajib diikuti mahasiswa kami,” ujar Kepala Divisi Pengkajian dan Pengembangan Keislaman Umar Haris Sanjaya saat ditemui Radar Kampus di kantornya, Rabu (1/8).

Umar Haris Sanjaya (VITA WAHYU HARYANTI/RADAR JOGJA)

Umar menjelaskan, mahasiswa baru sebelum kuliah harus mengikuti pekan ta’aruf, dilanjutkan mengikuti Pendalaman Nilai Dasar Islam (PNDI) pertama. Dalam tahapan ini, mereka yang sudah lancar membaca Alquran bisa langsung mengikuti Placement Test Agama (PTA) dan Pelatihan Kepemimpinan dan Dakwah (PKD) I serta Pelatihan Pengembangan Diri (PPD).

“Jika mahasiswa sudah mempunyai kemampuan yang sangat baik, bisa langsung mengikuti PKD II sebelum mereka menjalankan KKN. Sedangkan yang belum lulus pada PTA akan menempuh beberapa tahapan lain untuk meningkatkan kemampuan seperti PNDI II, Pengembangan Diri Qurani (PDQ) dan PKD II,” ungkap Umar.

Dalam seluruh kegiatan itu, UII memfasilitasi guru agama yang sudah mahir di bidang yang dibutuhkan. Misal mahasiswa yang belum lancar atau belum bisa baca Alquran akan dibimbing guru mengaji yang akan mendampingi mereka sampai fasih membaca Alquran dan hafal Juz Ama.

Menurut Umar, UII mempunyai target lulusannya bisa hafal Juz Ama atau surat-surat pendek pada juz 30 di Alquran. Mereka yang telah lulus mengikuti pembinaan itu juga mendapatkan surat pendamping ijazah yang mencantumkan nilai-nilai tes keagamaan yang diperoleh.
“Program ini bisa dibilang kunci mahasiswa untuk dapat mengikuti KKN dan ujian skripsi. Kalau mereka belum mempunyai surat keterangan lulus dari program dan tes ini, tidak bisa menyelesaikan syarat kelulusan KKN dan skripsi itu,” tambahnya. (ita/laz/mg1)