BANTUL – Ada program menarik yang ditawarkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Bantul di Bantul Ekspo (BE) 2018. Namanya restorasi arsip. Ya, selama 11 hari event tahunan yang digelar di kawasan Pasar seni Gabusan (PSG) ini, stan dispusip memberikan pelayanan restorasi arsip. Menariknya, program yang bertujuan untuk menyelamatkan berbagai dokumen tua nan penting ini tanpa dipungut biaya alias gratis.

AGUS SULISTYANA
Kepala Dispusip Bantul

”Pemerintah desa (pemdes) bisa merestorasi arsipnya di sini. Warga juga bisa untuk menyelamatkan dokumen penting seperti ijazah dan bukti pembayaran,” jelas Kepala Dispusip Bantul Agus Sulistiyana di stan Dispusip Rabu (1/8).

Dikatakan, restorasi arsip sebenarnya bukan program baru. Program ini telah digulirkan dispusip sejak 2016 lalu. Bedanya, restorasi arsip pada tahun ini murni dibiayai APBD Bantul. Sedangkan pada 2016 didanai pemprov. Lalu, pada 2017 disuntik Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Agus menekankan, restorasi arsip salah satu program unggulan dispusip. Sebab, tidak sedikit arsip atau dokumen penting yang perlu diselamatkan. Baik milik perseorangan, pemdes, kecamatan, maupun organisasi perangkat daerah (OPD). Apalagi, arsip merupakan “darahnya” organisasi. Jejak sejarah perjalanan organisasi terekam rapi dalam berbagai arsip. Persoalannya, tidak sedikit kondisi arsip yang tak terjaga keutuhannya lantaran termakan usia. Terutama arsip penting milik pemdes. Seperti peta desa dan dokumen letter c.

”Banyak arsip desa yang dibuat pada zaman Belanda. Ada yang dibuat pada tahun 1926,” ujarnya.

Selama tiga tahun terakhir, Agus menyebutkan, setidaknya dispusip telah merestorasi sekitar 1.500 arsip. Dari jumlah itu, mayoritas berupa peta desa dan letter c. Hingga sekarang lebih dari sepuluh pemdes yang mengajukan sendiri permohonan restorasi. Di antaranya, Segoroyoso, Palbapang, Sumberagung, Wukirsari, dan Triwidadi.

”Targetnya sebanyak mungkin arsip desa yang kami restorasi,” ucapnya.

Dengan restorasi, Agus menggaransi keaslian arsip bakal terus terjaga. Bahkan, bisa bertahan hingga seratus tahun. Dengan begitu, pemdes tak lagi kebingungan dengan keaslian dokumen penting miliknya.

Lalu, bagaimana teknis restorasi arsip? Arsiparis Mahir Dispusip Bantul Lilik Nur Kholida mengungkapkan, ada serangkaian proses yang harus dilalui.

Pertama, arsip dibersihkan terlebih dulu dari debu. Juga noda seperti selotip. Kemudian, arsip harus diselamatkan dengan filmoplast bila ada bagian penting yang sobek. Seperti bagian yang terdapat tulisan. Setelah itu disemprot dengan cairan magnesium karbonat. Itu untuk mengurangi kadar keasaman kertas.

”Lalu ditaruh di atas plastik astralon. Kemudian ditutup dengan tisu pozo,” paparnya.

Lilik mengingatkan, tak boleh sembarangan menggunakan tisu dari Jepang ini. Peletakan tisu diprioritaskan pada bagian arsip yang tulisannya minim. Setelah itu dioles dengan lem khusus berupa metilcelulosa. Agar merata lem ini dioles dengan rachel. Nah, arsip ini siap dikeringkan.

”Setelah kering dirapikan dengan dipotong bagian pinggirnya,” lanjutnya.

Kendati tampak mudah, Lilik menyebut bukan berarti tidak ada kendala dalam proses restorasi. Dari pengalamannya, Lilik kerap menemui arsip lama berbahan baku kapas atau kayu. Kertas arsip jenis ini kerap nglinthing ketika disemprot dengan cairan.

”Kemudian tintanya blobor,” tutur Lilik menyebut proses restorasi arsip paling lama membutuhkan waktu hingga 24 jam.

Dari pantauan, ada pamong Desa Segoroyoso dan Palbapabang yang berada di stan dispusip kemarin. Salah satunya Kaur Umum Pemdes Segoroyoso Mugiono. Pria paro baya ini mengaku merestorasi peta desa dan letter C.
”Juga peta pedukuhan,” tambahnya. (**/zam/mg1)