KAMIS (27/10/2011) pagi kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke Gwadar, Provinsi Balochistan, Pakistan. Penulis ditemani dua mahasiswa Indonesia yang kuliah di Pakistan. Mereka Abdul Kholik (Alek) dan Ahmad Faruki. Kami sepakat menolak tawaran inspektur polisi Gadani yang bermaksud menyertakan anak buahnya untuk mengawal kami ke Gwadar.

Selain terlalu ribet, kami tidak yakin rencana itu bisa tepat waktu.
Sebagai gantinya, Sahid , 30 , sopir kami mengajak rekannya, Abdul Somad 37, yang asli warga Balochistan, ikut serta sebagai pengawal sekaligus sopir kedua.
Abdul Somad yang berbadan kekar itu tidak banyak bicara. Pembawaannya tenang dengan sosot mata tajam. ‘’Saya banyak punya keluarga di Gwadar,’’ aku Abdul Somad. ‘’Jadi, jangan khawatir,’’ tambahnya.

Selain itu, penulis, Faruki, dan Alek kali ini mengenakan baju kurta atau mirip pakaian sharwal gamez yang biasa dipakai orang Pakistan. Tujuannya, agar warga sepanjang jalan yang kami lewati mengira kami orang Pakistan.

Selain itu kaca mobil dilapisi sejenis kain kasa hitam agar kami di dalam mobil tak begitu kelihatan dari luar. Kami juga ekstra waspada. Tidak sembarangan keluar mobil, apalagi kalau situasi tidak aman. Kami benar-benar belajar dari pengalaman perjalanan ke Gwadar sehari sebelumnya. Ditangkap polisi hanya gara-gara Ahmad Faruki kebelet merokok dan keluar mobil.

Berangkat pagi jalanan Karachi relatif lancar. Tak banyak truk melintas. Namun umumnya kondisi jalan menuju Gwadar di Karachi rusak berat. Truk-truk bermuatan penuh dan bus banyak melintas di daerah ini.

Baru setelah keluar Gadani jalanan dua jalur seperti high way layaknya menuju luar kota. Selain sepi, kondisi jalan sangat bagus, rata dan mulus. Hingga mobil bisa dipacu sampai 160 kilometer per jam. Sangat kencang. Nyaris tidak ada rumah di jalan sejauh ratusan kilometer ini. Sepanjang perjalanan pemandangan hanya didominasi gurun dan sesekali bukit gersang. Semuanya benar-benar kering dan panas. Padang gersang dan gurun pasir mendominasi.
Kalau pun ada rumah warga itu hanya satu dua di beberapa titik jalan. Itu pun jaraknya puluhan kilometer atau bahkan ratusan kilometer. Umumnya mereka menjual bahan bakar minyak eceran merangkap tambal ban. Selebihnya, berupa gurun pasir dan bukit batu.

Sepanjang jalan banyak chek point pemeriksaan oleh tentara Pakistan terhadap setiap kendaraan yang melintas. Biasanya para tentara mencegat kendaraan yang lewat dengan membentangkan tali atau tampar. Kadang cukup distop saja.
Agar tentara atau polisi tidak sempat melongok ke dalam mobil, Abdul Somad biasanya langsung turun dari mobil menghampiri petugas di tempatnya. Dia melakukan jemput bola.

Dengan bahasa setempat Somad mengatakan beragam alasan. Mulai penumpang yang dibawa perempuan sampai teman kampungnya. Di setiap chek point Somad juga mengisi semacam buku tamu. Begitu pun saat balik nanti.
Tapi, prosesnya sangat singkat. Tak lebih satu menit. Tujuanya, agar polisi atau tentara tidak banyak tanya ini itu. Biasanya Somad berlaku sok akrab. Setelah mengucapkan salam dan peluk badan sebagai salam khas Pakistan, lalu mengisi buku tamu dan cepat-cepat pergi.

Biasanya yang dipakai alasan pertama. Yakni, penumpang yang dibawa keluarga perempuannya yang mau pulang kampung. Apalagi, penulis, Alek, dan Faruki yang duduk di belakang nyaris tidak terlihat dari luar.

Budaya Pakistan dan Afghanistan menatap perempuan yang bukan mahramnya adalah sesuatu yang aib atau memalukan. Karena itu setiap tentara atau polisi biasanya langsung percara ketika mendapat informasi penumpang kendaraan adalah perempuan. Mereka pun tidak menengok ke mobil.

Ini menguntungkan bagi kelancaran perjalanan. Sebab, kalau sampai ditanya ini itu, kami khawatir urusannya bisa merembet kemana-mana. Apalagi, daerah Balochistan merupakan wilayah tertutup bagi warga asing dan memerlukan izin khusus.

Sekitar 250 kilometer menuju arah Gwadar jalanan melintas gunung batu dan bukit gersang. Pemandangan cukup elok. Batu dan tanah yang dikikis air dan angin membentuk pemandangan alamiah. Ada yang mirip patung, binatang, dan aneka ragam lainnya. Benar-benar eksotik.

Di jalanan ini kendaraan hanya bisa dipacu sekitar 60 – 70 kilometer per jam. Selain penuh tanjakan dan turunan curam, juga banyak tikungan tajam.
Terlihat truk-truk besar mirip kontainer yang memakai ban lebih 20 buah. Jalannya merambat seperti keong. Tak sedikit yang mogok karena tidak kuat menanjak.

Menjelang sore sekitar pukul 16.00 kendaraan yang kami tumpangi mulai masuk Gwadar. Sedikitnya ada dua chek point. Setelah lolos kami lega. Sahid yang asli Lahore, Propvinsi Punjab, senangnya bukan main. Dia pun terus tertawa sambil ngomong ngalor ngidul tak karuan. Sedangkan Abdul Somad tampak tenang-tenang saja melihat tingkah konyol rekannya itu.

Menurut Alek yang lama tinggal di Karachi, warga Balochistan memang sangat keras. Bahkan sampai kini mereka masih dendam pada pemerintah. Sebab, kepala suku bekas kerajaan di Balochistan dibunuh di era kepemimpinan Jenderal Musharaf sebagai presiden Pakistan.

Makanya, orang Balochistan tidak begitu suka terhadap warga Punjab asal Musharaf kalau mereka masuk wilayah Balochistan. Sahid adalah warga Punjab, Pakistan. (yog/bersambung)