SLEMAN – Polisi menetapkan empat tersangka baru dalam kasus penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya M. Iqbal Setyawan di sela pertandingan sepak bola PSIM Jogja vs PSS Sleman di Stadion Sultan Agung Bantul Kamis (26/7). Mereka adalah MTS,21; RA,22; FDK,22l dan HAT,22. Keempatnya dibekuk jajaran Polda DIJ di kediaman masing-masing Rabu (1/8) dini hari.

AKBP Yuliyanto
(DWI AGUS/RADAR JOGJA)

“Benar (keempat tersangka, Red) ditangkap sekitar pukul 01.30 dini hari tadi (kemarin). Jadi total tersangka untuk saat ini ada enam orang,” jelas Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yuliyanto di mapolda setempat Rabu (1/8).

Penyelidikan tidak berhenti sampai di sini. Tak menutup kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah. Terlebih hingga saat ini proses penyelidikan masih berlanjut. Keterangan terus dihimpun dari tersangka maupun saksi-saksi dan penyelidikan barang bukti. “Lihat nanti perkembangannya seperti apa,” pintanya.

MTS dan RA adalah warga Bantul. Sedangkan FDK dan HAT asal Kota Jogja. MTS dan RA berprofesi sebagai buruh. Sementara DK dan HAT mahasiswa. Sejauh ini Yuliyanto belum bisa menjelaskan peran masing-masing tersangka baru tersebut dalam kasus penganiayaan Iqbal. Alasannya, seluruh peran, barang bukti, dan motif tersangka menjadi materi pemeriksaan penyidik.

Kendati demikian, Yuliyanto memastikan keempat tersangka itu mengakui tindakan penganiayaan. Adapun dua tersangka yang ditangkap sebelumnya adalah WTP, 19 dan LGF, 21. Keduanya diringkus di kediaman masing-masing Sabtu (28/7). Saat ditangkap keduanya tak melakukan perlawanan. Mereka juga mengaku telah melakukan penganiayaan. Kini keenam tersangka mendekam di sel prodeo. Mereka diancam pasal 170 dan pasal 351 KUHP.

“Seluruh tersangka ditahan untuk didengar keterangan mereka lebih lanjut,” ucap perwira menengah Polri dengan dua melati di pundak itu.
Yuliyanto memastikan penanganan perkara hukum terhadap keenam tersangka diberlakukan secara umum. Sebab, tak satu pun tersangka di bawah umur.

“Kami tidak tahu merah, biru, atau hijau. Pokoknya mereka telah melakukan tindak penganiayaan,” tegasnya.

Sementara mengenai perizinan pertandingan, Yuliyanto menyatakan, Polda DIJ tak intervensi.

Seperti diketahui, keputusan panitia pelaksana (panpel) pertandingan PSIM melawan Blitar United Senin (6/8) akan dilangsungkan di luar Jogjakarta. Panpel memutuskan laga tersebut digelar di Stadion Wijayakusuma Cilacap.
Soal pertandingan di Stadion Sultan Agung, Yuliyanto menegaskan, izin lokasi menjadi kewenangan Pemkab Bantul. “Jika izin penggunaan lokasi tidak diterbitkan, tentu Polda DIJ menyesuaikan,” tandasnya.

Sementara itu, untuk menunjukkan empati manajemen PSS Sleman bersama Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain bertandang di rumah orang tua Iqbal di Dusun Timbulharjo, Sewon, Bantul.

Dalam lawatan tersebut turut disumbangkan bantuan dari manajemen PSS. Manajer PSS Sismantoro juga meminta maaf atas insiden kerusuhan suporter yang berujung penganiayaan terhadap Iqbal hingga nyawanyamelayang.

“Mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga almarhum ditempatkan di surge,” ujar Sismantoro di hadapan keluarga besar Iqbal.

Dalam kesempatan itu Sismantoro menegaskan, tak seharusnya kerusuhan suporter klub sepak bola terulang. Apalagi, sebelum pertandingan telah ada kesepakatan damai demi menjaga kondusivitas. Karena itu, Sismantoro mendesak aparat untuk menghukum setimpal para pelaku kerusuhan. “Semoga kejadian itu yang terakhir,” harap Sismantoro yang juga Kades Candibinangun, Pakem, Sleman.

Ihwal laga derby kedua di Stadion Maguwoharjo Sleman, Sismantoro memastikan segi keamanannya akan diperketat lagi. Tak lupa, Sismantoro meminta seluruh pendukung PSS bersikap dewasa. Di sisi lain, selaku tuan rumah manajemen PSS tak akan membatasi kuota suporter tim tamu. Ini juga demi meminimalisasi kerawanan ricuh.

Suratno, paman Iqbal, berharap kerusuhan suporter bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Khususnya aparat kepolisian. Supaya ke depan tidak kembali terjadi kerusuhan suporter, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. “Melihat video penganiayaan Iqbal rasanya sakit sekali. Kami berharap kasus ini segera dituntaskan. Para pelaku harus dihukum sesuai aturan,” ucap Suratno. (dwi/mg4/yog/mg1)