Metode penyebaran dakwah saat ini sudah beragam. Kini banyak masyarakat yang memilih belajar agama dari media online. Tidak heran jika majelis-majelis ilmu seperti pengajian kini semakin sepi. Mengemban tugas menyebarkan dakwah islamiyah, mengharuskan mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UMY untuk menangkap peluang ini. Dengan berbagai inovasi dakwah yang kian pesat, kiprah lulusan KPI semakin cemerlang.

Di sisi lain, penyebaran tentang paham-paham radikalisme Islam semakin kuat. Ini akibat misinterpretasi terhadap pemahaman Islam secara keseluruhan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa KPI UMY untuk menyajikan konten dakwah yang berbeda. Tentunya yang selaras dengan ajaran-ajaran Islam.

“Kiprah lulusan KPI UMY sudah punya ciri khas,” ungkap Kepala Program Studi (Prodi) KPI UMY Twediana Budi Hapsari saat dihubungi Radar Kampus, kemarin (1/8). S1 bidang komunikasi misalnya, sudah banyak pengembangan ilmu di bidang broadcast. Mahasiswa dibekali untuk membuat program Islam. Selain itu mahasiswa juga harus menguasai dunia online. Artinya mahasiswa bisa membuat website dengan konten-konten dakwah. Dalam projek TV, mahasiswa bisa memegang program-program Islam.

Uniknya, prodi ini punya konsentrasi kedua yaitu konseling Islam. Dina, sapaannya, mengklaim belum banyak perguruan tinggi yang punya konsentrasi di bidang ini. Prinsipnya, konsentrasi ini mengarahkan mahasiswa untuk bisa memprogram bina rohani di rumah sakit. Sehingga ketika lulus bisa jadi penyuluh agama di masyarakat. Baik di penyuluh di penjara maupun panti sosial.

Untuk mahasiswa yang mengambil konsentrasi komunikasi, banyak yang terjun ke public relation. Selain itu juga bisa mengelola website perusahaan maupun organisasi Islam. Secara kemampuan teknik, mahasiswa KPI UMY dalam bidang komunikasi tidak kalah dengan mahasiswa KPI di perguruan tinggi lain.
Keunggulannya, mereka lebih percaya diri. Bahkan lebih berani mencoba kreativitas yang berbeda. “Saya selalu mendorong mahasiswa masuk ke bidang komunikasi yang masih belum banyak yang turun ke sana. Misalnya tim media LSM atau lembaga penanggulangan bencana,” ungkapnya. Sehingga untuk hal ini, mahasiswa diarahkan untuk melihat peluang, baik nasional maupun internasional.

Ada berbagai macam karya yang pernah dibuat mahasiswa KPI UMY. Pertama, KKI TV. Di sini mahasiswa banyak membuat film pendek. Di ICC musik juga sudah bikin album religi. Di konsentrasi konseling juga punya program konseling sejawat. Di dalamnya mahasiswa saling membantu sesama teman mengatasi masalahnya.

Ke depan, Prodi KPI UMY akan membuat projek berkolaborasi dengan jurusan komunikasi yang ada di luar negeri. Ini dilakukan agar tagline kampus muda mendunia bisa digunakan oleh mahasiswa KPI UMY. Dua tahun ini, KPI sudah membuka kelas internasional. Bahkan pada tahun ajaran ini ada banyak mahasiswa dari luar negeri yang mendaftar di KPI UMY untuk masuk di kelas internasional.
“Satu mahasiswa dari Amerika sudah konfirmasi. Akan ada 50 mahasiswa dari Tiongkok datang. Dari Indonesia dibatasi tiga kelas untuk setiap angkatan,” katanya.

Dina berharap setelah lulus mahasiswa bisa tetap menjadi pribadi muslim yang membawa nilai Islam. Juga membawa kemaslahatan bagi umat. Apa pun profesinya, harus mampu menjalankan misinya dengan terus menularkan kebaikan. Agar bisa membawa agenda perubahan bagi kehidupannya di masa mendatang. (ega/laz/mg1)