JOGJA – Profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) juga memiliki risiko mengalami kecelakaan kerja. Namun belum semua guru PAUD di Kota Jogja terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan (Naker).

“Tugas guru PAUD kadang sampai menjemput anak didiknya. Mereka tidak bergaji, memiliki risiko sosial jika mengalami kecelakaan kerja,” ujar Ketua Forum PAUD Kota Jogja Tri Kirana Muslidatun, Rabu (1/8).

Beban kerja yang ditanggung guru PAUD cukup berat. ‘’Namun mereka bekerja secara sukarela,’’ ujar Anna, sapaan Tri Kirana Muslidatun.

Dikatakan, dari 2.522 tenaga kerja di 991 lembaga Taman Kanak-Kanak (TK), Kelompok Bermain (KB) dan PAUD di Kota Jogja, baru 182 lembaga atau 312 tenaga kerja yang memiliki jaminan sosial ketenagakerjaan. “Masih ada 809 lembaga TK-KB-PAUD atau 2210 pengajar yang belum mendapat perlindungan ketenagakerjaan,” kata isteri Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti tersebut.

Solusinya, melalui program Gandeng Gendong Pemkot Jogja menggandeng komunitas usaha yang mampu dan peduli agar pengajar PAUD diikutsertakan dalam program BPJS Naker. “Melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) pelaku usaha bias menjembatani perlindungan sosial ketenagakerjaan ini,” kata Anna.

Kepala Bidang Pemasaran BPJS Naker Cabang Jogja Adi Hendarto mengatakan ada 30 pelaku usaha tertarik Gerakan Gandeng Gendong Khusus Pengajar PAUD. Mereka bergerak dalam bidang perhotelan, rumah sakit, klinik kecantikan, perbankan dan pusat perbelanjaan.

“Beberapa perusahaan sanggup mendaftarkan 508 pengajar PAUD untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan,” ungkap Hendarto.

Pemberian perlindungan ketenagakerjaan bagi pengajar PAUD tersebut untuk mencegah munculnya kemiskinan baru. Dengan memanfaatkan dana CSR perusahaan, pengajar PAUD bisa terlindungi jika terjadi kecelakaan kerja.
“Keluarga mereka juga terjamin jika terjadi sesuatu pada pengajar PAUD tersebut,” kata Hendarto.

Saat ini jumlah kepesertaan pekerja formal yang didaftarkan perusahaan mencapai 225.720 orang dari total angkatan kerja di DIJ yang mencapai dua juta orang. Adapun jumlah perusahaan yang mendaftar, tercatat lebih dari 8.000 perusahaan.

“Tahun ini jumlah tenaga kerja aktif yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan sebanyak 47.111 orang. Namun yang keluar ada 40.000 orang,” kata Hendarto. (pra/iwa/mg1)