Kemampuan sekelompok manusia yang unggul dalam persaingan global kadang diidentifikasi sebagai kemenangan pihak yang mempunyai sumber daya lebih unggul dibanding pihak yang kalah. Dalam berbagai perang besar, keunggulan teknologi militer, misalnya, dipandang sebagai faktor penentu kemenangan dan tentu disertai jumlah arsenal yang cukup memadai.

Namun, anggapan ini telah terpatahkan ketika Amerika Serikat, yang mempunyai kekuatan militer hebat, ternyata kalah dalam Perang Vietnam. Amerika dikalahkan oleh tentara rakyat Vietnam, yang panglimanya seorang jenderal dengan tinggi badan hanya 151 centimeter saja. Namanyya adalah Vo Nguyen Giap (1911-2013). Doktrin militer tentara Amerika yang gagah perkasa itu ternyata menjadi sangat ”primitif” di Vietnam.

Kekalahan Perang Vietnam ini menjadi kajian yang sangat serius di kalangan para akademisi dan petinggi militer. Bagaimana mungkin orang Vietnam yang tinggi badannya rata-rata hanya 160 centimeter bisa mengalahkan tentara Amrik yang tak hanya tinggi besar, tetapi juga mempunyai persenjataan yang jauh lebih lengkap dan hebat.

Amerika bukan hanya kehilangan puluhan ribu pemudanya. Tetapi, juga kehilangan miliaran dolar untuk perang yang tak jelas tujuannya.

Dasar watak orang Amerika, meski kalah total, tetap saja mereka bisa bikin pahlawan semu (quasy heros) semacam Rambo melalui dunia perfilman. Sehingga, kekalahan itu menjadi terkaburkan seolah tentara Amerika adalah kekuatan militer yang tak pernah kalah dan tidak mungkin bisa dikalahkan.
Rakyat Vietnam memberi contoh pada orang-orang Amerika bahwa ada faktor penting yang mereka lupakan yaitu kapasitas organisasi tentara Vietnam-lah yang menjadi keunggulan komparatif. Tentara Vietnam lebih punya komitmen dan disiplin daalam organisasi militernya sehingga teguh menjaga rahasia militer dan tekad untuk mengalahkan lawannya.

Di pihak lain, tentara Amerika adalah pasukan yang frustasi karena terpaksa ikut menjadi milisi, yang dengan sendirinya lemah dalam disiplin dan takut mati. Disiplin dalam organisasi militer Vietnam itulah yang menjadikan prajuritnya lebih modern dibanding prajurit Amerika. Prajurit Amerika yang kaya dan lengkap peralatan militernya tetapi masih terpaku pada doktrin Perang Dunia II yang lebih mementingkan jumlah pasukan dan arsenal milliliter yang lebih unggul.

Tentu masih banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa kekuatan uang yang sangat luar biasa tak mampu memenangkaan persaingan, baik dalam bisnis ataupun bidang lainnya. Perusahaan-perusahaan besar pun tumbang, kalah bersaing dengan perusahaan yang berusia muda.

Lalu orang mengatakan, ini disrubtions, zaman teknologi digital menghancurleburkan korporasi yang sudah melegenda. Merek dagang yang sudah melegenda seperti Sony, Erickson, Siemens, dan Nokia hilang diperedaran dan muncul merek dagang berbasis di Tiongkok hina seperti Xiaomi, Oppodan Vivo.

Merek dagang berbasis Eropa dan Jepang hilang dari peredaran yang mengakibatkan merek dagang berbasis Tiongkok dan Amerika berhadapan langsung memperebutkan pasar. Inilah saatnya Amerika melawan Tiongkos vis-a-vis melakukan perang dagang, yang belum tentu dimenangkannya.

Semua analisis selalu menunjukkan siapa pemilik teknologi maju adalah pihak yang akan memenangkan persaingan. Namun dalam kenyataannya banyak bisnis skala global dan pemilik puluhan hak paten pun juga tersungkur dalam lumpur kekalahan. Sony, Philips, Kodak, Erickson, dan banyak lagi, adalah pemilik hak paten berskala internasional pun tak berdaya dan ternyata hak-hak octroi yang selama ini menjadi pelindung bisnisnya pun mati berkalang tanah.
Bukan hanya hak paten, jaringan organisasi bisnis yang tersebar di seluruh negara pun tak berdaya. Sebagai suatu organisasi bisnis, multy national corporations (MNC) yang mempunyai jaringan global, terpaksa harus memangkas jaringan operasi yang dianggap tak memberi kontribusi keuntungan yang memadai, yang justru makin menenggelamkan perannya selama puluhan tahun.

Jaringan bisnis MNC yang pada dekade lalu dianggap sebagai sistem yang sangat modern dengan tiba-tiba menjadi suatu sistem primitif dengan munculnya teknologi informasi yang menjangkau ke seluruh umat manusia terdidik. Dengan terpaksa, korporasi besar meninjau ulang terhadap dogma-dogma manajemen yang diyakini selama ini. Sebab, teknologi informasi membawa perubahan atas perilaku setiap individu terhadap nilai-nilai kebendaan maupun pola kehidupan sosial di setiap negara.

Pola kerja tiap korporasi bisa berbeda-beda tergantung pada aktivitas bisnisnya. Ada pula perusahaan yang jam kantornya malam hari karena kliennya yang dilayani ada di belahan dunia yang lain. Ada pula yang jam kerjanya mulai siang hari, yang menjadikan suatu kantor harus luwes dalam menetapkan disiplin kerja maupun penetapan renumerasi pegawainya.

Modernitas suatu organisasi (baik bisnis maupun publik), bukanlah ditentukan oleh sistem birokrasi sebagaimana yang diajarkan di ruang kuliah manajemen yang kadang kala masih mengajarkan sistem organisasi primitif. Dan, tentu bukan pula besaran renumerasi maupun banyaknya komputer atau peralatan canggih yang digunakan.

Keunggulan suatu organisasi justru pada kemampuan sebagai suatu sistem yang adaptif terhadap setiap perubahan lingkungan bisnis maupun lingkungan sosialnya. Organisasi abad milenial ini sudah jauh meninggalkan peran sentral seorang bos besar. Sebab, kendali organisasi sudah demikian luas cakupannya dan membutuhkan kecepatan dalam bersikap dan memutuskan. Bahkan, dalam banyak hal, keputusan operasional pun sudah berstandar dan dioperasikan dengan mesin digital.

Masalah kecepatan dalam mengambil keputusan inilah yang pada akhirnya akan memberi label suatu organisasi menjadi primitif atau sebaliknya. Kecepatan dalam melihat perubahan sosial ke depan dan ketepatan memilih produk apa yang harus disajikan akan menjadi pilar utama semua organisasi bisnis berskala global maupun lokal.

Pemerintahan sebagai suatu organisaasi yang memperoleh mandat negara pun dihadapkan persoalan yang sama berupa kemampuan melakukan beradaptasi terhadap perubahan sosial dan sistem di seluruh dunia. Yakni, meningkatkan keunggulan komparatif dalam persaingan global. Jika tak disadari, pemerintahan di manapun akan terjebak dalam sistem masa lalu yang terjebak dalam konsep birokrasi yang feodalistik sehingga akan menampakkan suatu organisasi yang primitif. (*/amd/fn)