bahari

PIKIRAN penulis waswas, cemas nggak karu-karuan. Perjalanan ke Gwadar Rabu (26/10/2011) siang untuk mencari kapal tujuan Oman tersendat. Mobil yang membawa penulis bersama dua mahasiswa Indonesia di Karachi distop polisi saat menambah angin ban di tengah perjalanan. Paspor penulis disita. Polisi tak sedikit pun menghiraukan penjelasan sopir yang membawa kami.
Penulis bersama Faruki, salah seorang mahasiswa Indonesia yang menemani penulis, serta sopir mobil dikawal polisi bersenjata berputar-putar tak jelas. Sedangkan Abdul Kholik (Alek), teman mahasiswa Indonesia lainnya, dibawa dalam mobil polisi yang lain.

Selanjutnya, kami dibawa ke tempat sedikit jauh. Sekitar satu kilometer dari kantor polisi. Kami berdua tidak boleh keluar mobil selama masa menunggu panggilan inspektur.

Sekitar pukul lima sore kami dibawa ke kantor polisi. Di sana sedang berkumpul inspektur polisi Gadani dan sedikitnya tujuh anak buahnya. Mereka terus mencecar tujuan kami ke Gwadar. Meski sudah dijelaskan berulang kali tujuan hanya melintas ke Oman, mereka tidak percaya. “Kenapa haji tidak lewat udara. Selain berbahaya, juga tidak masuk akal melakukan perjalanan darat berbulan-bulan. Dan, tentunya mahal,” sanggah inspektur tadi.

Polisi tadi tidak bisa berbahasa Inggris. Sebagai gantinya mereka terus berbicara Urdu kepada Alek yang memang jago bahasa setempat itu. Meski sudah dirayu oleh Alek, polisi tadi bersikukuh terus memojokkan kami.

Terutama penulis yang akan melaksanakan haji darat. Penulis dituduh sebagai mata-mata, agen intelejen, kurir narkoba, hingga tuduhan “miring” lainnya. “Apa pekerjaanmu?” tanya inspektur tadi pada penulis. Agar tidak makin curiga penulis menjawab sebagai art worker atau pekerja seni. Dia tidak melanjutkan pertanyaan lagi.

Hari menjelang magrib. Tapi, yang dituduhkan polisi hanya berputar-putar . Bahkan saat kami minta pengawalan juga tidak dipenuhi. Polisi itu beralasan daerah yang akan dilewati penulis terlalu berbahaya. Jadi, tidak ada solusi. Hanya ngomong ngalor ngidul. Malam kian larut.

Sebagai gantinya, inspektur yang kata bawahannya bernama Mehdi Bakti itu, mulai menunjukkan karakter aslinya. Yakni, minta 5 lhaks. Atau sekitar Rp 50 juta. Sebagai syarat penulis boleh ke Gwadar. Satu lhaks sama dengan Rp 10 juta. Penulis lantas bilang kepada Alek supaya bilang ke inspektur tadi. “Suruh saja dia merampok saya,’’ kata penulis. Biar nanti penulis tulis besar-besar di koran.

Setelah tidak ada tanggapan, inspektur tadi menurunkan tawarannya menjadi satu lhaks. Tapi, itu pun tidak kami tanggapi. Sebagai gantinya polisi tadi menawarkan orangnya untuk mengawal ke Gwadar. Dia minta imbalan USD 250. Itu disaksikan seluruh anak buahnya yang ikut mengerumuni. Penulis langsung setuju saja. Hitung-hitung biaya pengamanan. Selain itu masalahnya biar urusan cepat klir. Karena polisi Pakistan tadi bicaranya ngalor ngidul.
Tapi, penulis mau membayar dengan syarat setelah sampai di Gwadar
Penulis sebenarnya malu juga melihat kelakuan segelintir ulah polisi tadi. Mereka tidak tabu minta uang kepada orang asing di depan anak buah. Sepertinya hal itu sudah biasa.

Apalagi, di dalam ruangan kantor itu ada gambar Pakistan Mohamad Ali Jinah, Bapak Pendiri Pakistan, yang seakan-akan mengawasi polisi yang sedang bertransaksi tadi.

Penulis lantas menawarkan perjalanan malam ke Gwadar. Toh sudah ada pengawalan polisi. Tapi, inpsektur tadi berkelit lagi. Jam malam tidak aman. “Meski dikawal polisi, malam-malam siapa yang tahu. Jadi, sangat berbahaya,” ujarnya. Ujung-ujungnya penulis yang dirugikan. Gara-gara masalah itu perjalanan ke Gwadar jadi tertunda karena hari sudah larut.

Malam itu, kantor polisi suasananya gelap gulita karena listrik mati. Tapi, mereka makin gayeng berbicara. Kini, bukan hanya visa dan paspor penulis yang dibicarakan. Tapi, macam-macam. Mulai bisnis, politik, bahkan sewa mobil. “Jadi, sudah ngelantur,” ujar Alek.

Uniknya, meksi baru marah dan menginterogasi kami, tak lama kemudian suasana sudah cair. Mereka sudah tidak lagi membicarakan soal paspor atau Gwadar.

Bahkan inspektur tadi menawari minum cae, minuman khas Pakistan -India dan negara tetangganya. Yakni, teh hangat campur susus kerbau. Tidak ada kesan bahwa dia beberapa jam lalu marah, curiga, atau punya niat buruk lainnya pada kami. Kini, suasananya berbalik. Inspektur tadi bahkan minta tolong didoakan di Kakbah nanti. Owalah…

Karena tidak ada keputusan apa-apa, malam itu akhirnya kami putuskan balik dan menginap di Karachi, kurang lebih 100 kilometer dari Gadani. Sebagai gantinya seorang polisi ikut bersama kami menumpang ke Karachi menengok keluarganya. Sebelum turun dari mobil polisi tadi minta uang sekadarnya. Penulis juga iba dan memberi uang secukupnya. Polisi itu pun sangat beterima kasih dan mendoakan penulis agar bisa sampai Makkah. Dan, dia titip doa agar segera dipanggil Allah ke Makkah. Saya iya kan saja. (yog/bersambung)