Di antara unit usaha BUMDes Panggung Lestari adalah pengelolaan limbah minyak goreng. Setiap bulan salah satu BUMDes terbaik se-Indonesia ini mengolah 7000 liter jelantah.

SUKARNI MEGAWATI, Bantul

Bangunan yang terletak di pinggir sungai kecil itu sepanjang hari kemarin (31/7) nyaris tak pernah sepi. Tidak sedikit warga yang keluar masuk. Bahkan di antara mereka ada yang membawa jeriken berisi jelantah. Itulah aktivitas sehari-hari di gudang BUMDes Panggung Lestari. Selain untuk pemilahan sampah, bangunan beratap seng tersebut juga difungsikan untuk beragam unit usaha BUMDes lainnya. Seperti pengelolaan limbah minyak goreng.

”Ini limbah minyak goreng rumah tangga,” kata Direktur BUMDes Panggung Lestari Eko Pambudi di kantornya.

BUMDes yang berdiri pada 2013 ini tidak hanya mengandalkan pasokan jelantah yang dikirim langsung oleh warga. BUMDes juga punya sejumlah strategi lain. Di antaranya, melalui bank tilasan gorengan (tigor). Teknisnya, bank bentukan BUMDes ini menampung jelantah dari rumah tangga. Biasanya, satu rumah menghasilkan setengah liter jelantah untuk ditabung. Total ada 1.300 warga Panggungharjo yang menjual jelantah ke BUMDes. Baik melalui BUMDes langsung maupun bank tigor.

”Satu liter jelantah dihargai Rp 4.000,” ucapnya.

Sehari-hari, ada beberapa pegawai BUMDes yang menangani pengelolaan jelantah. Mereka bertugas menyaring ribuan liter jelantah. Hingga tiga kali proses penyaringan. Tujuannya jelantah memiliki tingkat kejernihan hingga 0,5 mikron.

”Karena jelantah akan dicampurkan dengan bahan bakar solar,” tuturnya.
Ya, olahan jelantah ini bakal dikirim ke salah satu perusahaan multinasional. Jelantah ini bakal dijadikan salah satu campuran bahan bakar mesin pabrik yang terletak di Klaten, Jawa Tengah tersebut. Komposisinya, 70 persen solar, sedangkan 30 persen jelantah. Itu sebagai bentuk komitmen perusahaan tersebut melawan global warming.

”Agar karbon yang dihasilkan mesin pabrik minim. Sehingga menurunkan polusi udara,” katanya.

Kerja sama antara BUMDes dan perusahaan air minum tersebut dimulai 2016. Saat itu perusahaan meminta agar BUMDes menyuplai 10 ribu liter jelantah setiap bulan. Hanya, hingga sekarang BUMDes baru sanggup mengirim 5000 liter hingga 7000 liter jelantah.

“BUMDes juga menerima jelantah dari pengepul luar,” tambahnya.

Lalu, bagaimana dengan pengelolaan sampah? Eko menyebut BUMDes mengumpulkan limbah domestic dari 1.300 jiwa. Berbagai jenis sampah ini dikumpulkan di rumah penampungan sementara untuk dipilah. Agar residu yang dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Piyungan minim.
”Organik dan non-organik dipisah,” sebutnya.

Menariknya lagi, BUMDes tak hanya berhenti memilah. Lebih dari itu, juga mengolah sampah. Organik, misalnya, diolah menjadi pupuk cair dan padat. Sedangkan sampah non-organik dijual sebagai rongsokan.

“Kami ikut membantu pemerintah mengurangi sampah,” tegasnya. (zam/fn)