JOGJA – Kasus perjokian saat penerimaan mahasiswa baru (PMB) ternyata tidak hanya terjadi di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Melainkan juga di FK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Modusnya pun hampir serupa. Peserta PMB dibekali peralatan canggih. Seperti alat pemancar dan earphone.

”Peserta membaca soal, lalu dilempar ke luar (joki, Red). Kemudian, joki menyebarkan jawaban melalui earphone,” jelas Kepala Biro Admisi UMY Siti Dyah Handayani saat dihubungi Selasa (31/7).

Seperti diberitakan, panitia menangkap basah sembilan peserta PMB gelombang III FK UAD. Mereka diduga terlibat kasus perjokian. Itu berdasar seperangkat peralatan canggih yang diamankan dari sembilan calon mahasiswa ini. Diduga peralatan elektronik seperti alat pemancar, earpiece, dan smartphone ini digunakan sebagai alat komunikasi dengan joki. Panitia juga pernah mengamankan dua joki saat PMB gelombang I FK UAD akhir April lalu. Bedanya, modus praktik curang saat PMB gelombang I belum begitu canggih. Joki saat itu masih turun langsung. Caranya dengan mengikuti ujian seleksi menggantikan peserta “asli”.

Guna mengantisipasi pergeseran modus ini, Dyah menekankan, UMY melakukan perubahan pola PMB gelombang IV tahun ini. Lokasi, misalnya. Panitia tak lagi memilih sportorium sebagai tempat pelaksanaan ujian PMB. Sebagai gantinya, panitia memilih ruang kelas. Itu untuk mempersempit celah kecurangan.

”Peserta bakal diperiksa sebelum masuk ruangan. Panitia juga menempatkan pengawas,” ujarnya.

Pola pelaksanaan PMB ini jauh berbeda ketika lokasi berada di sportorium. Saat itu seluruh peserta memasuki ruangan bersama-sama. Sebagai filternya, seluruh peserta hanya diperiksa dengan peralatan khusus. Bukan pemeriksaan manual. Karena itu, Dyah menduga dua joki yang pernah tertangkap basah saat PMB gelombang I FK UAD pernah “menjalankan aksinya” di UMY.

”Saya sudah meminta data namanya ke teman-teman UAD. Tapi sampai sekarang belum diberi,” tuturnya.

Ya, panitia PMB UMY pada 2017 berhasil menangkap basah 20 peserta beserta beberapa joki. Satu joki di antaranya divonis penjara enam bulan. Dia terbukti memalsukan identitas. Sedangkan beberapa joki lainnya dilepas lantaran terbentur belum adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur.

”Jadi polisi sulit menjerat dengan pasal mana,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Dyah menunjukkan efektivitas penerapan pola baru saat PMB gelombang IV. Kendati tak lagi mengamankan joki, panitia berhasil mendeteksi seorang peserta yang pernah menggunakan jasa joki. Ceritanya, calon mahasiswa ini pernah mengikuti PMB gelombang I. Karena tidak lolos, dia kemudian mengikuti PMB gelombang IV. Nah, pengawas curiga dengan peserta satu ini. Sebab, wajah peserta yang mengikuti gelombang I dan IV berbeda. Padahal, identitasnya sama.

”Setelah diinterogasi dia mengaku menggunakan joki saat gelombang I,” beber Dyah, menyebut bahwa panitia juga memanggil kedua orang tua peserta ini.

Dari hasil pemeriksaan ini juga diketahui bahwa kedua orang tua peserta ini mengeluarkan Rp 400 juta untuk membayar jasa joki. Saat itu si bos joki menjanjikan peserta diterima di FK UMY. Menurutnya, problem yang dialami peserta ini pelik. Tidak hanya mengeluarkan Rp 400 juta, peserta ini juga menyerahkan ijazahnya kepada bos joki. Nah, ijazah SMA peserta ini ditahan bos joki meski dia tidak lolos.

”Dibantu kepolisian bos joki akhirnya ditemukan setelah dipancing,” lanjutnya.
Kendati begitu, bos joki ini tidak diproses hukum. Kepolisian hanya menahan selama dua hari bos joki yang diduga sebagai salah satu kepala desa di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah ini.

”Dia orang terkenal kok,” katanya merahasiakan.

Dengan maraknya kasus perjokian, Dyah menegaskan bahwa UMY tak hanya bakal memperketat PMB FK. Lebih dari itu, juga ke berbagai fakultas lain.
Sementara itu, Kepala Humas Universitas Gajah Mada Iva Ariani menyebut tidak ada kasus perjokian selama PMB. Kendati begitu, kasus penipuan yang menjanjikan calon mahasiswa diterima masih sangat banyak. Terutama yang melalui jalur SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri) dan ujian tulis.

“Tapi skema untuk tes dan seleksi sudah dikunci sehingga meminimalisasi joki bisa masuk,” jelasnya.

Kendati begitu, Iva menegaskan bahwa mahasiswa maupun lulusan UGM yang terbukti curang saat PMB bakal didiskualifikasi. Sebab, seluruh mahasiswa yang dinyatakan diterima di UGM harus menandatangani pakta integritas bermaterai.

Pada bagian lain, Kapolresta Jogja Kombes Pol Armaini meminta UAD segera melaporkan kasus perjokian saat penerimaan peserta baru (PMB) gelombang III Fakultas Kedokteran. Kepolisian baru bisa bekerja jika sudah ada laporan yang masuk. Itu untuk memastikan apakah kasus perjokian masuk ranah pidana atau perdata.

”Dengan menunjukkan kerugian akibat perbuatan tersebut. Termasuk kejadian dan motifnya seperti apa,” jelasnya Selasa (31/7).

Ketika disinggung mengenai laporan yang pernah dibuat UAD beberapa waktu lalu, mantan wakapolresta Banda Aceh itu menyarankan pelapor menanyakan progress penanganannya kepada penyidik. Itu merupakan bentuk komunikasi antara pelapor dan penyidik.

”Karena ada penyidikan yang lancar. Ada pula yang terhambat karena kekurangan alat bukti dan sebagainya,” jelasnya. (tif/pra/zam/fn)

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)