Purworejo Kite Festival 2018 boleh saja diselenggarakan di Pantai Ketawang, Desa Ketawangrejo, Grabag, Purworejo. Namun berkah perhelatan akbar itu tidak saja menjadi milik warga setempat. Destinasi lain pun mendapatkan kesempatan memamerkan potensinya di sela kegiatan utama. Di antaranya ada Kopi Seplawan yang mendapat tempat peserta luar negeri.

BUDI AGUNG, Purworejo

Ratusan layang-layang dengan berbagai gaya dan macam telah kembali terlipat usai mengikuti Purworejo Kite Festival 2018 di Pantai Ketawang, 30 Km dari pusat pemerintahan Purworejo, Sabtu-Minggu (28-29/7) lalu. Kesan mendalam tidak saja terpatri di hati masyarakat penikmat. Peserta pun mendapatkan kesan yang baik selama menjadi bagian kegiatan.

Di antara banyak peserta baik dari dalam maupun luar negeri ternyata masih ada yang ingin tinggal lebih lama di Purworejo, setidaknya satu malam lagi sebelum bertolak berkumpul kembali dengan keluarga. Berkenan bertahan, unsur Pemkab Purworejo pun menawarkan diri mengajak mereka mengunjungi keunggulan Purworejo di luar kawasan pantai.

Ya, gua dan kopi Seplawan yang berada di ketinggian Purworejo atau sekitar 60 kilometer dari lokasi festival layang-layang menjadi tujuan utama. Pemilihan tempat disesuaikan dengan kedekatan dengan wilayah Jogjakarta, di mana mereka akan memanfaatkan moda udara untuk pulang selanjutnya.

Dari enam negara, setidaknya ada tiga negara yakni Malaysia, Polandaia, dan Jepang, yang turut serta dalam kunjungan wisata tambahan ini. Selain itu ada beberapa peserta dalam negeri seperti dari Batam, Jakarta, dan Surabaya.

Karena terkurasnya tenaga selama dua hari penuh bergelut dengan layang-layang di bawah sengatan terik matahari pantai, tenaga mereka seolah habis. Mereka memilih bersantai di seputaran Gua Seplawan yang sejuk dan cantik.

Setidaknya hawa sejuk dari pegunungan menjadi aromaterapi tersendiri untuk mendalamkan kembali kesan wisata Purworejo yang indah. Penganan lokal berbahan ketela pohon yang diolah menjadi sebentuk gembel jadi sajian utama, demikian halnya dengan tempe goreng.

“Bagian dalam gembel yang dari campuran tempe dan sambal ternyata membuat tamu dari Jepang memilih menyerah. Dia suka tapi tidak kuat pedasnya dan hanya dinikmati bagian pinggirnya,” tutur Dyah Woro Theresia, pendamping dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo, Selasa (31/7).

Masih berbalut kesejukan, rombongan bergeser menuju bawah Gunung Kelir, tidak jauh dari Gua Seplawan. Di sana kopi lokal hasil olahan biji kopi murni racikan Sugiharto atau Toto, disajikan. Satu persatu jenis racikan kopi berpindah ke mulut para peserta, berbagai ekspresi muncul usai mencicipi.

Beragam komentar muncul dan berujung tidak saja pembelian kopi Seplawan, namun beberapa langsung memberikan tawaran untuk turut terlibat dalam festival produk. Saran juga dimunculkan di mana diperlukan sebuah promosi yang lebih banyak ke dunia jika di Purworejo ada kopi yang punya signature tersendiri.

“Undangan festival dari Malaysia dan yang dari Batam ingin mengirim delegasi belajar seduh kopi dan siap mengambil kopi dari Kaligesing ini,” jelas Toto.

Selama berada di Kopi Seplawan, tamu tidak hanya diajak menikmati. Mereka diajak melihat dari dekat perkebunan kopi berikut proses pemupukan dari kotoran kambing untuk menghasilkan mutu kopi yang benar-benar organik.

Dan sebagai penutup, Toto sengaja memberikan senjata andalannya yakni kopi susu kambing dan kakao atau disingkat Kopsukka. Sekali seruputan saja peserta dari Jepang langsung memberi jempol dan berucap “very, very delicious”. (laz/fn)