GUNUNGKIDUL – Rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pasca bencana alam akibat Siklon Tropis Cempaka 2017 molor. Semula dijanjikan tahun ini, namun mundur karena pertimbangan keuangan negara.

Anggota Komisi C DPRD Gunungkidul Ery Agustin mengatakan belum lama ini menggelar rapat kerja dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menanyakan perihal proses rehab-rekon.

“Anggarannya cair tahun ini, namun realisasinya tahun depan,” kata Ery Selasa (31/7).

Dikatakan, mundurnya jadwal rehab-rekon tidak lepas dari keterbatasan anggaran Kementerian Keuangan RI (Kemenkeu). Usulan perbaikan dampak bencana alam Siklon Tropis Cempaka 2017 tidak berjalan sesuai rencana.

“Contohnya pembangunan Jembatan Jelok, Desa Beji, Patuk; Jembatan Wonolagi, Desa Ngleri, Playen; dan jembatan Mojorejo, Desa Katongan, Nglipar,” ujar Ery.

Kepala BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan sebenarnya proses rehab-rekon sudah berjalan. Anggaran dari Kemenkeu sudah ada. Daerah juga telah memetakan kebutuhan rehab-rekon.

“Angka yang kami usulkan Rp 171 miliar. Namun setelah diverifikasi turun menjadi Rp 103 miliar,” kata Edy.

Dia mengatakan anggaran tersebut belum turun pasca BNPB melakukan verifikasi lapangan. Persetujuan anggaran sudah diusulkan ke Kemenkeu. Tinggal menunggu keputusan.

Berdasar verifikasi BNPB, ada beberapa kerusakan yang ditangani dengan APBD. Misalnya kerusakan akibat gelombang tinggi pesisir selatan yang terjadi belum lama ini. Kerusakan tersebut diangap bukan akibat langsung dari Siklon Tropis Cempaka. (gun/iwa/fn)