Tak Merasa Beda, Menilai Perempuan Malah Lebih Luwes

Kerap disebut sebagai pekerjaannya laki-laki, seorang ibu rumah tangga di Purworejo rela terjun menjadi anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas). Terpanggil karena rasa sosial, ia mengaku senang bisa terlibat menjadi bagian dalam upaya ketertiban masyarakat.

BUDI AGUNG, Purworejo

Gerbang utama Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo pagi itu hanya terbuka tipis, cukup keluar masuk orang saja. Kepadatan mengelilingi luar gerbang dan menyisakan sedikit jalan karena barikade petugas kepolisian, Satpol PP dan Damkar.

Ruang luas terlihat hanya ada di dalam gerbang pendopo, itu pun sudah disesaki beberapa bus dan kendaraan pelat merah serta patwal. Pelukan dan isak tangis menjadi latar belakang suasana saat anggota keluarganya hendak menunaikan haji.

Tegas di bawah ketinggian gerbang utama dari besi, ada sosok berbeda dibandingkan yang lain. Mengenakan pakaian dominan hijau muda, dia seolah tidak risi dengan pandangan orang yang mengarah kepadanya.

Ya, dia adalah anggota Linmas Kelurahan Baledono, Kecamatan Purworejo, yang turut ambil bagian pengamanan saat pelepasan calon jamaah haji kloter 37 Kabupaten Purworejo, Jumat (27/). Punya senyum manis saat disapa, dia tetap tampak tegas.

Mengaku telah memiliki dua anak, RA Adhitia Kusumastuti memang belum lama menjadi anggota Linmas. Dan di awal terjun sebagai anggota pengaman sukarela, ia langsung mendapat sebutan Srikandi Linmas se-Kabupaten Purworejo.

Ceritanya mengalir begitu saja saat diminta tanggapan soal profesi tambahannya itu. Dia tidak melihat jika linmas hanya menjadi dominasi laki-laki saja. “Saya malah melihat kalau perempuan jadi linmas lebih luwes,” kata ibu berusia 37 tahun ini saat ditemui Senin (30/7).

Adhitia mengaku, penerimaan di lingkungan cukup tinggi dalam setiap aktivitasnya banyak yang memberikan apresiasinya. Hal ini menjadikan semangatnya bertahan sebagai linmas tetap terjaga.

Banyak terlibat dalam kegiatan pengamanan, termasuk pengaturan lalu lintas di tengah keriuhan Pasar Baledono diakuinya sudah menjadi hal yang biasa. Dirinya mengaku tidak segan berbicara lebih keras saat ada warga yang tidak tertib.

“Mengajak masyarakat untuk tertib itu tidak gampang. Dan emosi kadang meluap, di sini kami diuji,” tegas istri Wahyu Widiarso ini.

Soal restu, Andhita mengaku suaminya tidak mempermasalahkan, bahkan sebaliknya sangat mendukung. “Istri saya itu sudah biasa kerja sosial. Tak jarang keluarga harus ditinggalkan karena tugas. Tapi saya maklumi,” kata Wahyu, sang suami. (laz/mg1)