RABU (26/10/2011) pagi penulis mengobok-obok Pelabuhan Karachi, Pakistan mencari kapal yang mau berlayar ke Oman. Atau setidaknya ada perahu nelayan yang bisa disewa ke Oman.

“Kami tidak berani berlayar jauh. Hanya sekitar sini,” tutur seorang nelayan yang mangkal dekat Pelabuhan Karachi. Kehadiran penulis dan dua mahasiswa Indonesia yang diantar sopir bajaj menarik perhatian para nelayan dan warga setempat.

Makin lama jumlah mereka kian banyak. Mereka kasak kasuk tanya ini itu pada sopir bajaj yang mengantar kami. Sebelumnya, sopir bajaj telah diwanti-wanti oleh Abdul Kholik (Alek), teman penulis yang kuliah di Karachi dan fasih berbahasa Urdu, agar jangan banyak ngomong. Apalagi, soal akan menyeberang ke Oman. Tapi, sopir bajaj itu rupanya tak bisa menahan diri. Setiap ada warga yang tanya dia nerocos terus. Jadilah warga kian tahu dan penasaran mengapa ke Oman pakai kapal atau perahu nelayan.

Karena tidak ada tanda-tanda ada kapal maupun perahu nelayan yang bisa mengantar penulis ke Oman, ditambah kerumunan tadi berarti pertanda kurang baik bagi kami sebagai orang asing karena bisa mengundang petugas atau polisi. Jika sudah begitu urusannya bisa panjang. Menghindari semua itu kami segera meninggalkan Pelabuhan Karachi.

Sebagai gantinya kami mencari agen travel maupun perusahaan pelayaran yang punya kapal atau setidaknya tahu informasi kapal ke Oman. Tapi, sampai pukul 13.00 waktu setempat tidak ada satu pun informasi positif soal kapal ke Oman. Akhirnya, satu jam setelah itu penulis memutuskan berangkat ke Gwadar dengan mobil sewaan.

Ditemani mahasiswa yang kuliah di Islamabad, Akhmad Faruki dan Abdul Kholik, kami bertiga menuju Gwadar, Provinsi Balochistan, Pakistan. Siang itu jalan keluar Karachi macet panjang. Lalu lintas semerawut dan berdebu. “Kalau tidak ada debu warga justru bertanya-tanya. Karachi indentik debu dan kemacetan,” kata Alek.

Jalanan umumnya rusak dan berlubang di sana sini. Di setiap perempatan atau beberapa tempat strategis selalu dijaga polisi maupun tentara bersenjata. Mereka memeriksa secara acak setiap kendaraan yang lewat.

Seperti diketahui, wilayah Provinsi Balochistan yang berbatasan langsung dengan Iran maupun Afghanistan merupakan daerah paling rawan di Pakistan. Kasus penculikan, perampokan, maupun pembunuhan, khususnya terhadap warga negara asing kerap terjadi. Selain itu Balochistan daerah bergolak. Sebab, sebagian warganya memberontak menuntut pemisahan diri dari Pakistan. Tentu Pakistan menolak dan mengerahkan segala daya upaya untuk meredam niat warga Balochistan. Terlebih wilayah Balochistan sangat strategis. Berada di perbatasan Iran, Afghansitan, dan Teluk Oman. Serta tak jauh dari Selat Hormuz, Iran, yang vital itu.

Baru dua jam perjalanan dari Karachi, sopir menghentikan mobil di daerah Gadani untuk menambah angin ban. Saat itu Faruki keluar mobil untuk merokok sambil menunggu. Tahu ada orang asing, sebuah mobil Corolla yang melintas mendadak menghentikan lajunya.

Ini yang kami herankan, polisi kok begitu cepat mendatangi kami. Padahal, hanya beberapa menit berhenti. Dugaan kami ada yang melaporkan kami ke polisi. Kemungkinan ya si tukang tambal ban. Wilayah perbatasan sangat rawan, sehingga polisi dan tentara memanfaatkan warga, bahkan anak kecil, untuk ikut serta mengawasi orang asing.

Ya anak kecil jadi ‘’mata mata’’. Itu pengalaman penulis saat menyeberang dari Pakistan ke Afghanistan lewat “jalan tikus” menuju Kabul pada 2001 silam. Di jalur perbatasan tak terjaga yang biasa disebut jalan tikus banyak anak kecil berseliweran. Halim, mahasiswa yang ikut penulis sampai Jalalabad, mengingatkan agar kami jangan lengah. Sebab, anak-anak itu kadang jadi mata-mata tentara mengawasi orang asing yang lalu lalang di jalan tikus perbatasan.

Atau polisi sudah membuntuti kami, karena sekitar sejam sebelumnya kami salat Asar di salah satu masjid di pingiran Kota Gadani. Tak berapa lama setelah tambah angin, polisi datang. Apakah itu kebetulan, atau mereka sudah membuntuti sejak di masjid, kami tidak tahu.

Beberapa polisi menenteng senjata turun dari mobil. Si sopir, yang belakangan diketahui seorang inspektur polisi Gadani, langsung minta indentitas Faruki. Baik kartu mahasiswa maupun paspor.

Faruki juga ditanya ini itu. Begitu tahu tujuan kami Gwadar, mereka langsung memeriksa seisi mobil. Paspor penulis juga ditahan. Meski sudah dijelaskan tujuan kami ke Gwadar hanya mencari kapal melintas ke Oman dalam perjalanan haji darat.

Tapi, polisi itu justru makin curiga. Mereka menilai kami masuk daerah yang salah, terlarang bagi orang asing, dan berbahaya. Inspektur polisi tadi terus membolak balik paspor penulis. Mereka makin curiga karena banyak cap visa dalam paspor. Mereka pun menahan paspor penulis tanpa menghiraukan penjelasan sopir yang membawa kami.

Penulis bersama Faruki dan sopir dikawal polisi bersenjata. Kami dibawa putar-putar mengikuti mobil polisi. Sedangkan Alek dibawa dalam mobil polisi yang lain. Kami sengaja dipisah untuk dikorek keterangan. Juga agar tidak kabur. (yog/bersambung)