Usia mereka sama-sama 13 tahun. Keduanya pelajar kelas VIII SMP Pangudi Luhur 1 Jogja. Sekilas, kedua “ABG” itu tampak sebagai sosok pemalu. Tak banyak bicara. Dibanding Sean, Angelica lebih irit bicara. Tapi, di balik sifat pendiam keduanya menyimpan segudang prestasi di bidang basket. Itulah sosok Angelica Jennifer dan Sean Rowen.

Angel, sapaan akrab Angelica, meski usianya masih sangat belia, posturnya tak kalah tinggi dari orang dewasa. Perempuan berambut panjang ini berbadan bongsor setinggi 175 cm. Postur yang cukup ideal untuk menjadi pemain basket. Sementara Sean, meski tidak setinggi Angel, gerakannya cukup gesit dan lincah.
Kedua pelajar itu memang menggandrungi basket sejak masih kecil. Angel menggemari basket sejak duduk di bangku SD. Orang tuanya menjadi faktor pendukung utama. Itu dibuktikan dengan mendaftarkan Angel di klub basket Mataram begitu tahu buah hati mereka sangat berbakat di bidang olahraga modern itu. ”Karena (badan, Red) cukup tinggi, saya biasa bermain sebagai center,” kata Angel.

Sean pun menggemari basket sejak SD. Tepatnya sejak kelas 4. Keinginan Sean menjadi atlet basket justru terinspirasi oleh sang kakak. Maka, sejak itu atlet yang kini membela klub SSS, lebih memilih fokus di basket dan meninggalkan wushu, olahraga yang ditekuni sebelumnya.
”Ada cita-cita menjadi atlet basket profesional,” ungkap Sean yang kerap bermain di posisi point guard.

Keduanya mewakili pelajar DIJ untuk bergabung dalam training camp Jr NBA yang akan diselenggarakan di Tiongkok pada Oktober mendatang. Di sana, keduanya bakal mendapat pengalaman berarti karena harus menjalani pelatihan bersama bintang NBA. Tidak hanya itu, bersama 14 pemain asal Indonesia lainnya, Sean dan Angel berkesempatan melihat aksi bintang NBA pada laga Philadelphia 76ers melawan Dallas Mavericks.
“Tidak semua pelajar bisa mendapatkan kesempatan untuk berlatih dan bertemu langsung dengan para bintang pujaan,” kata Sean yang menggemari klub NBA LA Lakers.

Bisa menjadi bagian dari 16 pemain (8 putra dan 8 putri) Jr NBA Indonesia tentu bukan hal yang mudah. Ribuan pelajar dari berbagai sekolah harus bersaing keras untuk menjadi yang terbaik. Demi lolos sebagai Jr NBA Indonesia 2018 all stars. Tak cukup skill hebat. Tapi juga sportmanship, berupa sportivitas, serta kerja sama tim. Sikap positif dan saling menghargai satu sama lain juga menjadi landasan penilaian.

Pada training camp pada Juli lalu, berbagai pengalaman berharga telah didapat keduanya. Termasuk coaching clinic dari pemain asal Boston Celtics Jeylen Brown.

”Tak menyangka bisa masuk 30 besar, kemudian disaring lagi menjadi delapan pemain putri dan delapan putra. Persaingannya sangat ketat. Dan penyeleksinya pun orang asing semua,” ungkap Sean.

Di Tiongkok nanti mereka akan bertemu dengan tim Jr NBA negara lain. ”Bisa menjadi bekal untuk menuju atlet profesional nantinya,” sambungnya.

Memiliki siswa berprestasi sudah pasti membawa kebanggaan bagi keluarga maupun sekolah. Demikian pula yang disampaikan Kepala Sekolah SMP Pangudi Luhur 1 Jogja Bruder Yustinus Wahyu Bintarto. Perhatian sekolahnya terhadap olahraga, khususnya basket, memang cukup besar. Salah satu prestasi membanggakan yang diraih yakni tiga kali menjuarai Junior Basketball League (JRBL) yang merupakan kompetisi basket pelajar SMP paling bergengsi di Indonesia saat ini. “Semoga prestasi Sean dan Angel bisa menjadi motivasi bagi pelajar lain untuk berprestasi di ajang basket,” harapnya. (yog/mg1)